Selasa dalam Pekan Prapaskah IV, 17 Maret 2015

Yeh 47: 1-12  +  Mzm 46  +  Yoh 5: 1-16




Lectio

Pada suatu kali di hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem.  Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya  dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu.  Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya.  Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.  Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?"  Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."  Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.  Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: "Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu."  Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah."  Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?"  Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."  Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia.  Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.




Meditatio

Ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.  Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: 'maukah engkau sembuh?'.  Sebuah tawaran yang menyenangkan hati.  Jawab orang sakit itu kepada-Nya: 'tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku'. Malang kali orang itu; tidak ada seorang pun yang menolong dirinya. Ke mana saudara dan saudarinya? Ke mana teman-temannya? Ataukah memang dia itu orang sulit, sehingga orang lain pun enggan menolong dia?  Waktu mendengar tawaran Yesus, dia pun juga tidak langsung menjawab ya saya mau¸melainkan menunjukkan pengalaman hidupnya. Tanpa menunggu jawaban mau atau tidak,  kata Yesus kepadanya: 'bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah'.  Sungguh benar,  pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Entah ke mana dia pergi. Dia pergi tanpa ucapan terima kasih kepada Orang yang menyembuhkannya.

Hari itu hari Sabat.  Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: 'hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu'. Hari Sabat adalah hari libur. Orang harus beristirahat, orang tidak boleh bekerja sedikitpun.  Akan tetapi ia menjawab mereka: 'Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: angkatlah tilammu dan berjalanlah'. Orang itu pun merasa tak bersalah. Sungguh nampaklah dia orang yang acuh tak acuh terhadap hidupnya sendiri.  Mereka bertanya kepadanya: 'siapakah orang itu yang berkata kepadamu: angkatlah tilammu dan berjalanlah?'.  Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kalau dia orang yang tahu berterima kasih, tentunya dia akan mencari Orang yang telah menyembuhkannya. Dia tidak mencari, dan dia tidak bertanya-tanya. Kebaikan dan anugerah yang diperolehnya dianggap biasa saja, tanpa perlu dilambungkannya rasa syukur.

Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: 'engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk'. Belaskasih Allah memang tidak menutup mata terhadap semua orang, bahkan mereka yang berdosa pun mendapat anugerah kesembuhan daripadaNya. Allah itu murah hati. Dia memberi kepada mereka yang masuk petang sama dengan mereka yang masuk mulai pagi hari. Luapan belaskasih Allah tidaklah henti. KasihNya mengalir dan memberi kehidupan bagi seluruh ciptaanNya bagaikan digambarkan dalam kitab Yehezkiel (47). Kini pemberian yang diberikanNya mengajak orang untuk berani terus mendekatkan diri kepada Tuhan, dan tidak berbuat dosa lagi.  

Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia.  Orang itu ternyata bukanlah orang bodoh. Tanpa harus menanyakan Siapakah Nama Orang itu, dia tahu bahwa Orang yang menyembuhkannya dan meminta supaya tidak berbuat dosa lagi adalah Yesus. Sepertinya orang itu memberitakan Yesus tidak dengan nada syukur, tetapi sekedar mengatakan apa yang diketahuinya.  Karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat. Aturan hukum sepertinya lebih penting dari keselamatan jiwa.




Oratio :

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur atas anugerah kasihMu yang tiada hentinya kami nikmati dalam hidup ini, yang mendatangkan keselamatan, kiranya kamipun semakin berani mendekatkan diri kepadaMu sebagai tanggapan atas kasihMu. Amin




Contemplatio :

'Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk'.








Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening