Kamis Putih, Pesta Perjamuan Tuhan, 2 April 2015

Kel 21: 1-9  +  1Kor 11: 23-26  +  Yoh 13: 1-15

 


 

 

Lectio

Sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.  Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.  Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.

Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,  kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?"  Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak."  Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku."  Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!"  Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua."  Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih." 

Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?  Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.  Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu;  sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu".

 

 

 

Meditatio

Sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa.  Yesus hendak mengakhiri tugas perutusanNya di dunia. Dia hendak mengakhiri dalam kemuliaanNya di kayu salib, dan bukan dalam kematian.  Semua yang telah dilakukanNya adalah seturut kehendak Bapa. Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya, dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Dia berasal dari atas dan akan kembali ke atas, dan bukan tetap tinggal di dunia, karena memang Dia bukan dari dunia. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya,  demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.  Mengapa? Karena kasih Allah itu tidak berkesudahan. Kasih Allah itu abadi dan kekal. Kasih Allah inilah yang menghendaki agar semua orang beroleh selamat.

Kalau Yesus dengan setia merayakan Paskah, kita pun orang-orang yang percaya kepadaNya juga ikut serta dalam Paskah Perjanjian Baru, di mana Kristrus sendiri menjadi Imam dan Kurban.  'Ia mengambil roti mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!.  Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!' (1Kor 11: 24-25). Yesus sendiri yang memimpin perjamuan sebagai Imam, sekaligus menjadi Kurban, karena Tubuh dan DarahNya yang dipersembahkanNya.  Dan sungguh, 'setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang', bukan dengan berkotbah maksudnya, melainkan mengenakan kematianNya agar kita semua dibangkitkan kelak di akhir jaman ketika Dia datang untuk kedua kaliNya.

Ketika  mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.  Terasa aneh dan janggal memang, tetapi itulah yang terjadi. Perjamuan adalah saat kesatuan hati dan jiwa, tetapi saat itu juga terjadi sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh kuasa kegelapan. Dalam saat yang  indah, Allah sepertinya membiarkan kuasa kegelapan menyelinap dalam diri orang-orang yang mencari kepuasan diri. Sang Anak Tunggal Bapa membiarkan  semuanya itu, karena memang Dia tahu dengan apa yang terjadi pada diriNya;  walau tak dapat disangkal,  celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.

Kembali dalam perjamuan Paskah, perjamuan yang kudus, semua orang Yahudi, orang-orang Israel diingatkan akan pesta kemerdekaan bangsa, umat milik Allah dari kungkungan penindasan bangsa Mesir. Bukan mereka bangsa yang membebaskan diri dari bangsa lain, melainkan Allah sendiri yang membebaskan orang-orang pilihanNya. 'Beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN. Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN.  Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.  Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya'  (Kel 12: 11-14). Apakah ritual Paskah tidak mereka jalankan sehingga perjamuan kudus itu sempat kecolongan, sehingga kuasa kegelapan masuk dan mencuri hati Yudas Iskariot? Bukankah ada Yesus bersama mereka? Sekali lagi apakah Yesus memang membiarkan semuanya ini terjadi?

Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,  kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Sang Anak Manusia benar-benar mengambil rupa seorang hamba, karena memang yang dilakukan pada malam itu adalah tugas seorang hamba yang harus berani dan rela membasuh kaki sang majikannya. Aneh juga, para murid hanya berdiam diri pada saat pembasuhan itu. Hanya ketika sampai kepada Simon Petrus, berkatalah  Petrus kepada-Nya: 'Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?'.  Mengapa Petrus baru bertanya ketika dia mendapatkan giliran? Mengapa tidak semenjak awal dia bertanya demikian?  Jawab Yesus kepadanya:  'apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak'. Mengapa baru kelak mengerti? Mengapa Yesus tidak menerangkan kepada mereka terlebih dahulu apa yang hendak dilakukanNya?  Kata Petrus kepada-Nya: 'Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya'. Petrus berkata demikian, karena dia mungkin merasa tidak tega melihat tindakan yang dikerjakan oleh sang Guru mereka. Jawab Yesus: 'jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku'. Dibasuh oleh Kristus sepertinya adalah sebuah kewajiban yang harus berani diterima oleh setiap murid.   Kata Simon Petrus kepada-Nya: 'Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!'.  Petrus ini memang seorang pemberani. Sangat impressif. Bukankah dengan dibasuhnya kaki, tangan dan kepala semakin lengkap dan utuhlah untuk mendapat bagian bersamaNya?  Kata Yesus kepadanya:  'barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua'.  Jawaban Yesus amatlah tegas, tetapi ternyata mengandung suatu pesan yang mendalam. Apa yang dikatakan bukan soal tangan atau kaki, bukan soal pembasuhan kaki atau mandi, melainkan soal keutuhan dalam hidup bersama dengan diriNya.  Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih."

Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: 'mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?  Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.  Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu;  sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu'.  Penegasan Yesus amat jelas dan harus mudah dimengerti setiap orang. Kalau Yesus saja mau melayani, mengasihi,  dan bahkan berani mati untuk sesamaNya, demikianlah hendaknya kita yang percaya kepadaNya. Membasuh kaki adalah contoh konkrit sebuah pekerjaan yang tidak pernah dipikirkan oleh orang-orang yang mapan, sebab semua itu adalah pekerjaan dahulu saudara-saudari kita para pembantu; dan itupun sudah tidak ada sekarang. Percaya dan mengikuti Kristus bukanlah sebuah pekerjaan memuji-muji Yesus, bersorak-sorai dan bertepuk tangan dengan bahasa roh yang tidak masuk akal budi, atau dengan meditasi hening tanpa suara, atau dengan Rosario yang beraneka ragam persitiwa. Percaya dan mengikuti Kristus berarti  'berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu', sebagaimana ditegaskan Kristus. Agama yang benar adalah agama yang menyadari kehadiran Tuhan Allah dalam setiap peristiwa hidup sehari, terlebih dalam diri sesama kita.

'Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku', adalah sebuah penegasan bahwa Yesus menghendaki membasuh dan menyelamatkan semua orang, sebab seluruh umatNya adalah orang-orang yang dikasihiNya; sekaligus penegasan agar setiap orang berani menerima pembasuhan Kristus, berani menerima kasih pelayanan Kristus, sebab hanya dalam kasihNya setiap orang beroleh keselamatan. Di luar kasih Allah tidak ada keselamatan, karena memang hanya Allah yang sang Pencipta dan Penyelamat yang mampu menyelamatkan seluruh umat manusia.

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus, ijinkanlah kami menikmati belaskasihMu yang menyelamatkan itu, dan berilah kami hati seperti hatiMu yang siap melayani sesama dengan tulus dan penuh kasih,sehingga semakin banyak orang mengalami kasihMu yang menyelamatkan lewat kehadiran kami.  Amin

 

 

 

 

Contemplatio :

'Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku'.  

 

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening