Selasa dalam Pekan Paskah III, 21 April 2015


Kis 7: 51-60  +  Mzm 31  +  Yoh 6: 30-35

 

 

 

Lectio

Suatu hari orang banyak masih terus bertanya dan bertanya. Kata mereka: 'tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?  Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."  Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.  Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."  Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."  Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

 

 

 

Meditatio

'Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?  Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: mereka diberi-Nya makan roti dari sorga', tanya mereka. Mereka meragukan kehebatan sang Guru dari Nazaret. Mereka malah membalik penyataan Yesus. Yesus memang meminta agar mereka percaya kepadaNya, tetapi mereka malah berbalik meminta tanda dari Yesus. Sepertinya tanda-tanda yang telah dilakukan Yesus belum mampu memberi kepuasan kepada mereka. Bagaimana harus percaya Anak Manusia, kalau kehebatan Allah dalam Perjanjian Lama sebagaimana dialami nenek moyang tidak ada bandingnya?

'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.  Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia', sahut Yesus kepada mereka. Namun mengapa Yesus menyebut-nyebut nama Musa? Padahal mereka semua pun tidak menyebut namanya. Bukankah mereka mengatakan  nenek moyang kami diberi-Nya makan roti dari sorga? Bukankah mereka menyebut bahwa yang memberi nenek moyang mereka makanan adalah Allah sendiri?  'Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa', sahut mereka yang juga menginginkan roti yang dikatakan Yesus. Mereka tidak menekankan pada pekerjaan yang harus dilakukan sebagaimana dikatakan Yesus, malah mereka menginginkan roti yang mengenyangkan mereka dan sekaligus memberi kehidupan, yang ditawarkan sang Guru.

'Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi'. Sebuah jawaban yang menegaskan mereka Siapakah Dia yang ada di depan mereka,dan berbicara kepada mereka. Dialah sang Roti yang turun dari surga. Mereka harus tetap bekerja, yakni mereka harus tetap percaya kepada Anak Manusia,  bukan hanya dengan mulut tetapi dengan sikap dan tindakan hidup, yakni datang dan mengikuti Dia. Datang dan tinggal bersama sang Empunya kehidupan pasti akan membuat hidup semakin terasa hidup, dan menghantar mereka kepada kehidupan kekal.

Stefanus adalah seorang yang telah menikmati Roti Hidup, maka dengan berani dia menghadapi semua orang yang melawan dirinya. Dengan keyakinan teguh dia sempat berkata: 'sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah' (Kis 7: 56) di hadapan orang-orang yang menghasut dan memfitnah dirinya.

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, Engkau sendiri Roti Hidup dari surga yang mengenyangkan dan memberi hidup kekal pada kami. Kiranya kami semakin diteguhkan dalam iman, mengikuti Engkau  bukan hanya dengan kata-kata tapi melalui sikap dan perbuatan yang mencerminkan kehadiranMu di dalamnya. Amin

 

 

 

Contemplatio :

'Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi'.

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening