Jumat dalam Pekan Paskah VII, 22 Mei 2015


Kis 25: 13-21  +  Mzm 103  +  Yoh 21: 15-19




Lectio 

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."  Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."  Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."  Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."




Meditatio 

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Entah kenapa Yesus pagi-pagi sudah bertanya demikian? Tidak adakah waktu lain untuk bertanya seperti itu? Atau memang sengaja di awal kegiatan Yesus mempertanyakan hati dan budi muridNya itu. Sesudah sarapan mengandaikan waktu masih pagi dan segar, hati dan budi belum tercampur aneka pikiran; pikiran masih jernih. Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Sebuah jawaban yang jujur. Petrus berkata demikian, karena dia adalah seorang pengagum sang Guru. Dialah seorang yang berani membela gurunya. Mengapa Engkau bertanya kepadaku, Engkau tahu aku pasti mengasihi Engkau.  Sahut Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."  Terima kasih ya Yesus atas kepercayaan yang Engkau berikan kepadaku. Petrus berterima kasih kepadaNya atas kepercayaan yang diberikan kepada dirinya. Kepercayaan inilah yang kiranya semakin membuat Petrus semakin berani berserah dan mengasihiNya.

Namun betapa kagetnya, ketika Yesus bertanya demikian, bahkan sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Engkau memberi kepercayaan kepadaku untuk menggembalakan domba-dombaMu, tetapi Engkau meragukan kesiapsiagaaku. Ada apa dengan diriMu Yesus terhadapku? Apakah Engkau melihat sesuatu yang ada dalam diriku? Ada apa dengan diriku Yesus? "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Jawab Petrus yang menunjukkan kegiatan hatinya yang percaya kepada sang Guru.

"Gembalakanlah domba-domba-Ku", tegas Yesus juga untuk ketiga kalinya. Yesus serius bertanya dan bertanya kepadanya. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."  Yesus bersyukur atas keberanian murid yang satu ini untuk tetap setia pada tugas perutusannya. Sebuah tugas yang memang secara istimewa disampaikan kepada seorang Petrus. Namun Yesus tetap mengingatkan akan kerapuhan dan keterbatasan diri setiap orang yang menanggapi hidup. Setiap orang harus berani bangga atas hidupnya, tetapi setiap orang juga harus berani mengakui dirinya. Bahkan harus berani berkata segala yang indah dan baik, yang aku lakukan ini, bukan karena diriku mampu, melainkan karena kasih Tuhan Allah sang Empunya kehidupan yang ada dalam diriku. Kebanggaan diri akan segera berakhir, karena semuanya itu adalah sifat-sifat insani, yang tidak memampukan diri kita memaksa Tuhan Allah untuk melakukan sesuatu kepada kita. Sebaliknya di akhir segalanya itu, kita malah harus berani mengulurkan tangan kepada orang lain yang akan mengikat dan membawa ke tempat yang tidak kita kehendaki.

Semua ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah; yang ternyata dialami oleh setiap orang. Setiap orang diundang dan diajak untuk memuliakan Allah dalam setiap langkah hidupnya, tetapi segala kebajikan yang dimilikinya tidak menjadi jaminan seseorang untuk memaksa Allah bertindak sesuatu terhadap dirinya. Keselamatan pun adalah hak prerogatif Allah. Allah memberi hujan kepada setiap orang. Dia memberi upah yang sama kepada dia yang masuk sore sama dengan yang masuk mulai pagi hari. Dia mengizinkan seorang penjahat tersalip di sampingNya untuk menikmati sukacita Ilahi pada saat itu juga ketika dia memohon ampun dari padaNya. 

Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku." Yesus tetap mengajak Petrus untuk mengikutiNya. Dia pun tetap mengajak kita. 




Oratio

Ya Yesus, Engkau menyatukan kami dalam penggembalaanMu sendiri melalui para Imam kami. Kami mohon, ya Yesus, Engkau semakin melimpahkan berkat kasihMu kepada mereka, agar mereka selalu bersukacita dalam karya pelayannya, terlebih menemukan kehadiranMu sendiri dalam setiap langkah pastoral mereka. Amin.




Contemplatio 

"Gembalakanlah domba-domba-Ku".








Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening