Kamis dalam Pekan Biasa VII, 28 Mei 2015

Sir 42: 15-25  +  Mzm 33  +  Mrk 10: 46-52

 

 

 

Lectio

Suatu hari  tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan.  Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"  Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"  Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau."  Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus.  Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!"  Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

 

 

 

Meditatio

Suatu hari  tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan.  Itulah realitas kehidupan. Ada yang sehat ada yang sakit. Ada yang berjalan ke sana ke mari ada yang harus duduk diam seribu bahasa di tempatnya yang sama. Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: 'Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!'. Nama sang Guru, Yesus, Orang Nazaret sudah dikenal banyak orang. Dia, si Bartimeus, yang tidak pernah pergi ke mana-mana ternyata mengetahui dengan baik siapakah Yesus Orang Nazaret itu. Dia adalah Anak Daud yang penuh belaskasih. Dari mana dia dapat mendengarkan kabar tentang Yesus? Tak dapat disangkal, Bartimeus merasa bahwa dirinya patut mendapatkan belaskasih Allah. Dia yakin Allah itu penuh belaskasih dan perhatian kepada umatNya, terlebih mereka yang lemah.

Banyak orang menegornya supaya ia diam; sebaliknya  semakin keras ia berseru: 'Anak Daud, kasihanilah aku!'.  Sekali lagi, itulah realitas kehidupan, ada yang membutuhkan, ada yang malah menolak dan melarangnya. Seharusnya mereka yang sehat menaruh hati kepada mereka yang sakit. Seharusnya, kalau mereka mengenal sungguh Orang Nazaret itu, segera mendekatiNya dan memohon supaya Dia berhenti sejenak menanggapi panggilannya. Itulah realitas kehidupan, yang sering bertentangan satu dengan lainnya.  Lalu Yesus berhenti dan berkata: 'panggillah dia!'. Yesus ternyata mendengar jeritan hati si Bartimeus. Namun kenapa baru sekarang Yesus berhenti dan memanggilnya? Mengapa tidak semenjak awal Dia mendengarkannya?  Apa memang Yesus mau mengulur-ulur waktu?  Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: 'kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau'. Serius kali mereka memberitahukan hal itu. Apakah memang sebagai bentuk peneguhan mereka terhadap dia?   Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus.  Semangat kali si Bartimeus mendengarkan panggilanNya. Apakah orang-orang yang ada di situ membantu dia, minimal menuntun dia menghadap Anak Daud?  Apakah mereka enggan terhadapnya, dan membiarkan diri berusaha menggapainya?

'Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?', tanya Yesus kepadanya. Yesus yang tahu akan kebutuhan umatNya masih bertanya dan bertanya kepadanya. Inilah kesengajaan doa. Tuhan sudah tahu apa yang menjadi kebutuhan kita, tetapi kita tetap diminta berkata-kata tentang keinginan diri. 'Engkau yang mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.  Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.  Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.  Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku' (Mzm 139:2-5), masih sering juga menanyai aku. Aku berdiam dan Engkau pun berdiam.

'Guru, supaya aku dapat melihat!', sahut Bartimeus tegas. Bartimeus tahu apa yang menjadi kebutuhan dirinya. Dia tahu sebagai seorang miskin dan melarat, yang membutuhkan makan dan minum. Kebutuhan mendasar belumlah terpenuhi, tetapi ada kebutuhan lain yang benar-benar menjadi penopang untuk langkah hidupnya. Apakah dia pernah belajar kepada Salomo, anak Daud, yang tidak meminta kekayaan dan umur panjang sebagai raja, malah hanya meminta roh kebijaksanaan untuk memimpin umat yang dipercayakan kepadanya (1Raj 3)? Tidak diceritakan memang. Namun dia memang berani meminta yang terindah dalam hidupnya.  'Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!', jawab Yesus tanpa bertanya-tanya lagi kepadanya. Yesus langsung mengabulkan permohonannya karena dia berseru-seru dengan imannya. Iman dan kepercayaan akan Tuhan Allah memang membuat hidup ini terasa sungguh indah dan menyenangkan. Segala-galanya yang terlihat dan dapat dinikmati dengan indahnya (Sir 42).  Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah agar kamipun mempunyai iman yang selalu berharap kepadaMu. Yang tiada henti-henti berharap dan berharap akan belas kasihMu, karena Engkaulah yang Empunya kehidupan, Engkau tahu segala kebutuhan kami dan pasti memberi yang terbaik bagi kami yang mendatangkan keselamatan bagi kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!',

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening