Kamis dalam Pekan Paskah V, 7 Mei 2015

Kis 15: 7-21  +  Mzm 96  +  Yoh 15: 9-11

 

 

 

Lectio

Suatu hari bersabdalah Yesus: 'seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.  Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh'.

 

 

 

Meditatio

'Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu', tegas Yesus. Kasih Yesus terhadap para muridNya, terhadap kita semua sama persis dengan kasih Allah Bapa yang dilimpahkan kepada Anak Manusia. Sungguh indah dan mulia. Untuk itu,  tinggallah dalam kasihKu. Kasih dari sesama saja kita dapat merasakan keindahan dan keharumannya, terlebih lagi bila itu kasih Tuhan Allah sendiri, yang adalah Kasih.

'Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku'.  Syarat itulah yang diberikan Yesus kepada kita semua. Kita benar-benar mengalami kasihNya bukan dengan berpangku tangan, bukan hanya dengan berdoa, tetapi jikalau kita melakukan segala perintah dan kehendakNya. Kita mengamini sabdaNya yang kudus. Semuanya itu diminta Yesus,  persis 'seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya'. Apa Yesus hanya mengikuti saja apa yang dialamiNya dari Bapa? Mungkinkah kasihNya itu dilimpahkan kepada umatNya tanpa kita harus melakukan perintah-perintahNya? Bukankah Allah itu adalah kasih? Namun kalau kita telisik lagi, bagaimana kita menjadi kudus, kalau memang tidak ada kemauan dalam diri kita untuk menjadi kudus?   Bahkan bukankah sabdaNya itu menguduskan kita?  Bagaimana kita dapat menjadi murah hati, kalau memang kita tidak mau berbagi kasih, dan selalu memandang muka terhadap sesama? Kita harus berani melakukan perintah-perintahNya, karena memang tinggal bersamaNya berarti kita harus keluar dari diri sendiri. Atau sebaliknya memberikan tempat kepada Dia dalam diri kita agar Dia tinggal dalam hidup kita. Melakukan perintah-perintahNya adalah wajib hukumnya bagi setiap orang yang hendak tinggal dalam Allah.  

'Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh'. Tinggal dalam Allah memang mengandaikan adanya keterbukaan diri. Sukacita hidup kita akan semakin sempurna bila memang kita mau disempurnakan oleh Kristus Tuhan sendiri. Kita yang dimaksudkan di sini adalah semua orang yang berkehendak baik, dan bukan hanya mereka yang merasa diri bangsa terpilih dan kudus. Itulah yang pernah dikemukakan para rasul dalam sidang di Yerusalem. 'Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita,  dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. Dalam Kitab Suci tersurat:  Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan,  supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini,  yang telah diketahui dari sejak semula.  Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah' (Kis 15 6-16).

 

 

 

Oratio

YaYesus Kristus, ajarilah kami untuk berani membuka diri dan membiarkan Engkau tinggal di dalamnya, supaya kami semakin dimampukan dalam melakukan kehendakMu dan dapat menikmati kasihMu yang menyelamatkan. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening