Minggu dalam Pekan Paskah VI, 10 Mei 2015

Kis 10: 25-48  +  1Yoh 4: 7-10  +  Yoh 15: 9-17



 

 

 

Lectio

Suatu hari bersabdalah Yesus: 'seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.  Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.  Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.  Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.  Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.  Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.  Inilah perintah-Ku kepadamu: kasihilah seorang akan yang lain'.

 

 

 

Meditatio

'Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu', tegas Yesus. Kasih Yesus terhadap para muridNya, terhadap kita semua, sama persis dengan kasih Allah Bapa yang dilimpahkan kepada Anak Manusia. Sungguh indah dan mulia. Untuk itu,  tinggallah dalam kasihKu. Kasih dari sesama saja kita dapat merasakan keindahan dan keharumannya, terlebih lagi bila itu kasih Tuhan Allah sendiri, yang adalah Kasih. Kalau kamu sudah tahu, bahwa kasih Yesus kepada mereka, bukan sembarang kasih, maka sungguh baik dan tepatlah kalau tinggal dalam kasihNya itu.

'Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku'.  Syarat itulah yang diberikan Yesus kepada kita semua. Kita benar-benar mengalami kasihNya, bukan dengan berpangku tangan, bukan hanya dengan berdoa, tetapi jikalau kita melakukan segala perintah dan kehendakNya. Kita mengamini sabdaNya yang kudus. Semuanya itu diminta Yesus,  persis 'seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya'. Apa Yesus menuntut balas dari para murid, karena Dia tlkah melakukan kehendak BapaNya? Apakah Yesus bersikap pamrih? Mungkinkah kasihNya itu dilimpahkan kepada umatNya tanpa kita harus melakukan perintah-perintahNya? Bukankah Allah itu adalah kasih? Namun kalau kita telisik lagi, bagaimana kita menjadi kudus, kalau memang tidak ada kemauan dalam diri kita untuk menjadi kudus?   Bahkan bukankah sabdaNya itu menguduskan kita?  Bagaimana kita dapat menjadi murah hati, kalau memang kita tidak mau berbagi kasih, dan selalu memandang muka terhadap sesama? Kita harus berani melakukan perintah-perintahNya, karena memang tinggal bersamaNya berarti kita harus keluar dari diri sendiri. Atau sebaliknya memberikan tempat kepada Dia dalam diri kita, agar Dia tinggal dalam hidup kita. Melakukan perintah-perintahNya adalah wajib hukumnya bagi setiap orang yang hendak tinggal dalam Allah. Bagaimana saya layak pamer kepada sesama, kalau saya pandai bermain gitar, padahal saya tidak pernah lihat dan tahu bagaimana bentuk gitar itu.  Saya akan pandai bermain gitar, kalau memang saya bisa memegang gitar, dan bahkan berlatih memakainya.

'Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh'. Tinggal dalam Allah memang mengandaikan adanya keterbukaan diri. Sukacita hidup kita akan semakin sempurna bila memang kita mau disempurnakan oleh Kristus Tuhan sendiri. Kita yang dimaksudkan di sini adalah semua orang yang berkehendak baik, dan bukan hanya mereka yang merasa diri bangsa terpilih dan kudus. Kemauan kita melakukan perintah Tuhan membuat sukacita penuh, bukan sebatas sukacita jiwa raga kita, melainkan sukacita ilahi pun tinggal dalam diri kita  sehingga buah-buah yang diharapkan dari dalam hidup kita seperti kedamaian, kesabaran, kelemahlembutan, dan pengendalian diri semakin tampak dalam kehidupan kita sehari-hari.

'Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu'. Para murid, dan kita semua, hendaknya berani saling mengasihi satu sama lain sebagaimana Kristus sendiri telah mengasihi kita. Keberanian kita mengasihi sesama membuat kita bersikap dan bertindak seperti Allah sendiri bersikap dan bertindak kepada kita. Mengasihi sesama berarti menjadi Allah yang mengasihi kita umatNya.  'Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya'. Itulah kasih yang besar, yakni kasih seseorang yang berani menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatnya. Kasih yang berani berkurban. Kasih seperti itulah yang sepertinya hendak dikenakan dan diminta dari kita; yang sekarang telah kita lihat dan kita rasakan bahwa Dia telah melakukan semuanya itu di kayu salibNya yang kudus demi keselamatan.  

'Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu'. Bukankah seorang hamba yang selalu siap melakukan segala perintah tuannya, dan bukannya sahabat? Bukankah sahabat itu sejajar dengan kita? Mengapa Yesus malah menyebut sahabat jika seseorang melakukan perintah-perintahNya?  'Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku'. Penegasan Yesus menyatakan adanya keterbukaan, dan tidak adanya lagi yang tersembunyi bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Sahabat diartikan bukanlah tingkatan kuasa, melainkan keterbukaan Kristus yang mengungkapkan segala kemauan Allah terhadap kita umatNya. Tidak ada lagi misteri tentang Allah yang dirahasiakan bagi umatNya. Semua kehendak dan kemauan Allah dinyatakan kepada kita umatNya.  

'Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu'. Keselamatan itu berasal dari Allah; dan keselamatan itulah yang dibagikan kepada seluruh umatNya tanpa terkecuali. Keberanian setiap orang untuk menikmatinya adalah sebuah pilihan manusia, yang memang dikehendaki Allah. Allah menghendaki setiap orang menjawab undanganNya. Namun kiranya hendaknya semakin kita mengerti, bukannya berdasarkan pilihan kita manusia, maka kita mendapatkan keselamatan, tetapi karena kemurahan hati Allah sendiri. Kita tidak bisa memaksa Allah agar menyelamatkan kita, karena segala perbuatan baik yang telah kita lakukan. Allah sendiri yang menentukan. Penjahat di samping Yesus yang tidak pernah melakukan kebaikan selama hidupnya itu, tetapi dalam hitungan waktu dia beroleh yang indah dan mulia, karena kepercayaannya kepada Tuhan Yesus (Luk 23: 43).

'Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap'.  Yesus menginginkan, pertama, agar setiap murid, kita semua, agar berani berbagi kasih, tetapi bukan tetap mandeg, melainkan semakin hari semakin tetap berlimpah. Kedua, agar kita semakin yakin bahwa Dia selalu memberi perhatian kepada kita, yakni dengan jaminan: 'apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu'. Mengikuti Yesus, segala-galanya terasa semakin indah dan melimpah.  

'Inilah perintah-Ku kepadamu: kasihilah seorang akan yang lain'.  Yohanes dalam suratnya yang pertama juga menambahkan, satu-satunya tanda orang mengenal Allah, dan berasal dari Allah adalah kalau kita  saling mengasihi satu sama lain (1Yoh 4: 7-8).

 

 

Oratio

YaYesus, kami bersyukur atas kasihMu dan boleh tinggal di dalamnya, kiranya kami semakin dimampukan dalam mengasihi sesama bukan menurut ukuran dan cara pandang kami, tetapi mengasihi yang mendatangkan damai dan sukacita bagi sesama. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu'.

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening