Rabu dalam Pekan Biasa VIII, 27 Mei 2015


Sir 36: 10-17  +  Mzm 79  +  Mrk 10: 32-45




Lectio 

Suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya, kata-Nya: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah,  dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit."  Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!" Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?" Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu."  Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?" Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan." Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."





Meditatio

"Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah,  dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit", tegas Yesus kepada para muridNya dan kepada mereka semua yang mengikutiNya. Mereka merasa cemas dan sedih. Yesus akan mendapatkan perlawanan yang amat pahit, bukan dari orang-orang yang berada jauh di sana dan tidak mengenal sang Guru, melainkan oleh mereka yang mengenal siapakah sang Guru, bahkan oleh para pemimpin yang seharusnya melindungi dan mengayomi anak-anak-anak bangsanya. Mereka semua tak segan-segan menjual Anak Bangsa kepada bangsa lain. Harga diri Anak Bangsa dijual hanya untuk mencari hanya untuk mencari kepuasan diri, yang memang menganggap diri benar. 

Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?" Di tengah dukaNya Yesus masih mau mendengarkan keluhan dan permohonan umatNya. Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu." Sebuah Permohanan yang amat sulit dimengerti. Sang Guru menyampaikan salib yang harus dipanggulNya, malah mereka meminta kenyamanan hidup. Dua orang murid yang merasa dikasih sang Guru, dan memang mereka banyak mendapat perhatian daripadaNya, tetapi tidak mampu mengubah hidup mereka sesuai dengan keinginan Tuhan; minimal mereka tidak mampu menempatkan diri dalam situasi yang benar. Kasih karunia Tuhan tidak mengubah hati dan budi kedua murid ini. 

"Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?", jawab Yesus yang tidak mau mematahkan semangat dan kemauan para muridNya. Yesus tidak menegur mereka, malah menantang mereka untuk berani bersikap dan bertindak sebagaimana kehendakNya. "Kami dapat", sahut mereka serentak. Mereka sepertinya tidak mau mengikuti Yesus dengan tangan kosong. Mereka juga ingin memberi yang baik dan indah kepada sang Guru yang diikutinya. Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan". Sebuah jawaban yang hendak mengingatkan para murid, dan tentunya kita semua yang percaya kepadaNya, bahwasannya setiap orang harus berani meminum cawan pahit yang tidak mengenakkan dan dihindari banyak orang. Setiap orang harus berani meminumnya, tetapi keberanian itu tidak mampu mengubah kemauan dan kehendak Allah sendiri. Allah mempunyai rencana terhadap setiap orang. Tak dapat disangkal memang Allah itu penuh kasih dan murah hati, tetapi Dia tetap pada rencana kehendakNya agar semua orang beroleh selamat, dan kemampuan manusia tidak dapat mengubah kehendakNya. Tidak ada Kehebatan manusia yang mampu menyaingi kehendak Allah sendiri. Sebaliknya, kehendak manusia yang mau kembali bertobat dan kembali kepada Allah malah mengubah konsep dan gambaran manusia tentang Allah yang suka menghukum dan gerah terhadap umatNya. Allah itu penuh kasih, karena memang Allah adalah kasih. Benarlah yang dikatakan Yesus kemarin barangsiapa merasa menjadi terdahulu, dia akan  menjadi yang terakhir, sebaliknya dia yang terakhir akan menjadi yang terdahulu. 

Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Spiritualitas Yesus adalah kasih dan pengorbanan. Kehebatan seseorang di hadapan Allah adalah ketaatan dia kepada seluruh kehendak dan kemauan Allah, dan bukannya berdasarkan segala kebaikan dan kebajikan yang dapat dibuatnya. Spiritualitas Yesus adalah spiritualitas pelayanan dan bukannya kekuasaan, sebagaimana yang sering terjadi dalam dunia masyarakat yang politis itu.

Iman yang sejati akan Tuhan Allah adalah kerinduan akan kasih Allah yang mengatasi segala. Iman itulah yang disadari sungguh semenjak jaman Putera Sirakh (Sir 36).




Oratio

Ya Yesus, ajarilah kami untuk semakin berani melayani seperti Engkau sendiri, yang datang bukan untuk dilayani melainkan melayani, malah Engkau menjadi tebusan bagi banyak orang. Penuhilah kami dengan Roh KasihMu Yesus. Amin.





Contemplatio 

'Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang'.




Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening