Sabtu dalam Pekan Biasa VII, 30 Mei 2015


Sir 51: 12-20  +  Mzm 19  +  Mrk 11: 27-33

 



 

Lectio

Suatu hari  Yesus dan murid-murid-Nya tiba pula di Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua,  dan bertanya kepada-Nya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?"  Jawab Yesus kepada mereka: "Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.  Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!"  Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya?  Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!" Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi.  Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu." Maka kata Yesus kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu."

 

 

 

Meditatio

Suatu hari  Yesus dan murid-murid-Nya tiba pula di Yerusalem. Yesus kembali masuk ke Yerusalem. Sekali lagi, kenapa Yesus tidak menginap di Yerusalem? Tidak adakah tempat penginapan lagi seperti yang terjadi ketika Dia hendak dilahirkan Maria? Atau terlalu mahalkah biaya penginapan di Yerusalem sehingga komunitasNya tidak mampu membayarnya? Atau memang benar, di Yerusalem, bukanlah tempat bagi Dia untuk meletakkan istirahat, tak ada satu batu yang dapat untuk meletakkan kepalaNya? Yerusalem adalah tempat Dia mendapatkan perlawanan dan penyaliban, dan bukannya untuk beristirahat? Apakah Yerusalem merupakan kawah Candradimuka tugas perutusanNya?

Ketika Yesus berjalan di halaman bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua. Mereka sepertinya secara sengaja mendatangi Yesus. Mereka  bertanya kepada-Nya: 'dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?'.  Mereka ternyata masih mempersoalkan tindakan Yesus yang mengusir para pedagang, yang dianggapNya menjadikan rumah Tuhan sebagai tempat kejahatan, mafia perdagangan. Mengapa mereka tidak langsung menangkap mereka di depan bait Allah? Apakah sudah banyak orang sehingga mereka hanya mau berdebat tentang tindakanNya?  Jawab Yesus kepada mereka: 'Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.  Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!'.  Pandai juga Orang Nazaret ini? Mengapa Yesus membalik mereka dengan sebuah pertanyaan? Dia sang Empunya kehidupan, pasti tahu segala yang menjadi kemauan umatNya.

Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: 'jikalau kita katakan: dari sorga, Ia akan berkata: kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya?  Tetapi, masakan kita katakan: dari manusia'. Mereka takut juga kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi.   Penolakan terhadap Yohanes adalah penolakan terhadap masyarakat. Penolakan terhadap masyarakat membuat mereka tersingkirkan juga dari masyarakat. Hilanglah otoritas mereka sebagai orang-orang yang duduk di kursi Musa, bila mereka menolak kerinduan umat beriman akan datangnya kembali Elia. Lalu mereka menjawab Yesus: 'kami tidak tahu'.  Mereka pura-pura tidak tahu apa yang harus dikatakan. Namun tampak dengan adanya perbincangan antar mereka berarti ada yang disembunyikan. Bukan jawaban spontan yang benar dan jujur, melainkan jawaban yang dibuat-buat.   'Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu'.  Cukup kecerdasan Yesus dapat menyelesaikan persoalan yang terjadi pada saat itu. Mereka sendiri para ahli Taurat terperangkap pada sikap dan tindakan mereka sendiri selama ini.

Kiranya ada baiknya kalau kita belajar dari Yesus sang Empunya kehidupan ini, agar kita menjadi orang yang pintar, bijak dan cerdas. Sebab semuanya itu bila kita miliki akan benar-benar membantu kita untuk semakin memahami kehendak dan kemauan Tuhan. Marilah kita mengejar kebijaksanaan sampai akhir hidup sebagaimana dikatakan kitab putera Sirak hari ini (51: 14), yang tak lain dan tak  bukan kebijaksanaan sejati itu hanya dimiliki oleh sang Empunya kehidupan. Keberanian kita bersandar pada Yesus membuat kita menjadi orang pintar dan bijak, seperti Dia sendiri.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, berilah kami keberanian untuk selalu dekat kepadaMu, agar kamipun diberi kebijaksanaan dalam memahami sabda dan kehendakMu, supaya berani mengatakan kebenaran di manapun kami berada. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu'.

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening