Senin dalam Pekan Biasa VIII, 25 Mei 2015


Sir 17: 24-29  +  Mzm 32 +  Mrk 10: 17-27




Lectio 

Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.  Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"  Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."  Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.  Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."  Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.  Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."  Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"  Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."




Meditatio

Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia. Perjalanan ke mana, tidak diceritakan oleh Injil. Bukankah Dia pergi untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah? Siapa orang yang datang kepada Yesus, tidak diketahui pasti juga.

"Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?",  kata orang itu sambil bertelut di hadapanNya. Kenapa dia bertanya demikian? Apakah dia sudah tidak tahan dengan kenyataan hidup ini? Sebuah kenyataan yang tidak pasti dan jauh dari harapannya? Atau malahan dia sudah siap memang untuk masuk dalam kehidupan abadi? Tinggi juga hidup rohani orang satu ini. 

"Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja", sahut Yesus berbalik menantang dia. Sebab dari mana dia tahu bahwa Yesus itu baik? Yesus memang Orang baik, karena memang Dia sungguh Allah dan sungguh manusia. Yesus memurnikan pengenalan orang itu. "Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!", sahut Yesus yang sepertinya mengutip Perjanjian Lama tentang kesepuluh perintah Allah. Mengapa hanya disebutkan enam perintah, mengapa tidak semuanya? Apakah Yesus tidak hafal Decalog?  

"Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku", seru orang itu. Kesepuluh perintah Allah bukanlah hal baru. Itu sudah spiritualitas hidup. Orang yang sudah berusia ini sepertinya orang baik dan saleh. Dia orang jujur.  Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Yesus tahu yang menjadi kekurangan setiap orang. Yesus tidak pernah berjumpa dengan orang itu, tetapi Dia Tuhan tahu yang ada dalam hati setiap ciptaanNya. Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.  Orang itu bertanya dan mencari tahu, tetapi ketika diberitahu apa yang benar, malah bersedih hati dan meninggalkan Orang baik itu. Dia meninggalkan Allah. Dia meninggalkan Allah karena jawaban Allah tidak sesuai dengan kemauannya. Dia tidak mau kehilangan harta benda yang dimilikinya. 

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."  Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Apakah kita tidak boleh mempunyai banyak uang? Bukankah kita harus bekerja untuk mendapatkan nafkah hidup? Bukankah dengan adanya uang memberi kepastian hidup di masa mendatang? Uang memberi jaminan hidup lebihi baik.  Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.  Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."  Yesus semakin mempertajam persoalan para muridNya, persoalan kita semua. Kita bayangkan besarnya seekor unta, sembari membayangkan sepotong jarum.    Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah." Seekor unta bisa masuk lubang jarum dengan mudahnya daripada seorang kaya masuk Kerajaan Surga. Itu bisa terjadi karena Allah. Seseorang bisa masuk Kerajaan Surga dan menikmati hidupnya kekal bukanlah bergabung pada kemauan dan kebaikan, usaha dan jerih payah seseorang, melainkan karena kasih Allah. Kalau kita dapat melakukan sepuluh perintah Allah, kita rajin berdoa rosario, rajin puji-pujian dan berbahasa roh, tetapi kalau semuanya itu kita lakukan karena kekayaan yang kita miliki, tidaklah berarti bagi hidup kita. Itu semua tak ubahnya harta berdoa kita yang melakukan segala kebaikan, dan bukannya diri kita.
   
Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Apa yang harus kita lakukan?



Oratio

Ya Tuhan Allah, terima kasih banyak atas rezeki yang boleh kami terima daripadaMu. Semoga rezeki ini tidak membuat kami lupa memandang Engkau, dan malah semakin membantu kami dalam mendekatkan diri kepadaMu. Amin.




Contemplatio

"Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah".








Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening