Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis, 24 Juni 2015

Yes 49: 1-6  +  Kis 13: 22-26  +  Luk 1:  57-66.80

 

 

 

Lectio

Pada hari itu genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki.  Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.  Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya,  tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes."  Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu.  Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan mereka pun heran semuanya.  Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.  Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea.  Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.  Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel.

 

 

 

Meditatio

Pada hari itu genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki.  Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.  Kelahiran bayi memang membawa sukacita bagi keluarga, dan orang-orang  sekitarnya. Bagaimana tidak bahagia dengan kehadiran sang kehidupan baru. Apalagi Elizabet yang sudah dikenal sebagai orang yang sudah berusia dan mandul itu, isteri seorang imam kepala, dan kini beroleh kasih karunia Allah. Semuanya itu tentunya semakin membuat banyak orang bersukacita atas kelahiran sang bayi.

'Jangan, ia harus dinamai Yohanes', tegas seorang Elizabet, ibu dari sang bayi itu, menanggapi orang-orang yang  hendak menamai anak itu Zakharia menurut nama bapanya. Nama itulah memang yang didengarkan dari sang suami tentunya, yang mana setelah didengarnya sendiri dari malaikat yang telah memberikan kabar sukacita itu.  'Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian', sanggah mereka semua mempertahankan tradisi yang sudah ada.  'Namanya adalah Yohanes', tulis Zakharia, ketika dia dimintai nama indah yang hendak diberikan kepada sang buah hati mereka. Yohanes? Sekali lagi semakin membuat  mereka pun heran semuanya. Apakah memang kehadiran Perjanjian Baru ini ditandai dengan peniadaan hukum Taurat dan kitab para nabi? Mengapa Zakharia seorang suami, yang memang adalah seorang imam kepala begitu tunduk dan ikut apa yang dikatakan Elizabet, isterinya?

Namun tak dapat disangkal,  seketika itu juga terbukalah mulut Zakharia dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.  Mukjizat itu nyata. Nama Yohanes membuka kehidupan baru. Peristiwa kelahiran sang bayi tidaklah membuat dunia bersuara dan bersorak-sorai, tetapi ketika nama Yohanes disebutkan terbukalah mulut Zakharia yang sebelumnya memang meragukan kemauan dan kehendak Tuhan akan terjadi pada dirinya dan pada isterinya.  Yohanes artinya anugerah Allah; dan hal itu sungguh terjadi secara nyata dan pertama kali dinikmati oleh keluarga pasutri Zakharia dan Elizabet.  

Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea.  Mereka takut bukan karena merasa adanya roh kegelapan yang menakutkan, melainkan takut dalam arti kagum dan hormat, merunduk dan menyembah, karena peristiwa ilahi terjadi di tengah-tengah mereka. Mereka malah melihat dan sekaligus mendengar apa yang terjadi; Allah telah membuat segala-galanya baik adanya.  Semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: 'menjadi apakah anak ini nanti?', sebab tangan Tuhan menyertai dia.  Sebuah permenungan indah yang dilakukan oleh orang-orang jaman itu. Mereka tidak bisa berkata-kata memang tentang segala yang telah terjadi. Semua di luar kemampuan nalar insani mereka. Mereka tidak mampu menyimpulkan bahwa hidup ini mengatasi segala rumusan-rumusan yang telah dibuat kita manusia. Mereka, Zakharia dan Elizabet yang merindukan kehadiran sang anak di tengah-tengah mereka, malah meragukan dan tidak percaya akan kebaikan Tuhan terhadap mereka. Mengandung seorang bayi dan melahirkan seorang anak bukanlah suatu kewajiban bagi seorang perempuan yang dipercayai Tuhan. Dia tidak berhak memberi nama sembarangan kepada bayi yang dilahirkannya. Seorang ayah atau ibu harus berani memberi nama sang anak sesuai dengan panggilan Tuhan yang diberikan kepadanya. Akan apa yang terjadi dengan anak ini, kiranya Tuhan Allah sendiri yang akan atur dan pimpin dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel. Kehebatan Yohanes terus dibawanya. Dia mewartakan kabar sukacita, bahkan dia membaptis banyak orang yang datang kepadanya. Yohanes tetap mempunyai nama yang indah yang disandangnya. Namun dengan rendah hati, dalam pewartaannya dia selalu berkata: 'Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak' (Kis 13: 25). Sebab Yohanes tahu siapakah dirinya. Yohanes adalah orang yang tahu menempatkan dirinya dalam hidup bersama, terlebih dihadapan Tuhan Allah yang dipersiapkan kedatanganNya. Yohanes bukanlah pribadi yang tebar pesona dan mau mencari kesempatan untuk kemuliaan diri.

 

 

 

Oratio

Ya Bapa , kami memuji dan memuliakan Engkau, sebab Engkau melimpahkan segala rahmat anugerahMu dalam hidup kami. Engkaulah  yang membentuk buah pinggangku dan menenun aku dalam kandungan ibuku. Puji dan syukur kepadaMu  ya Tuhan.

Santo Yohanes Pembaptis, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Seketika itu juga terbukalah mulut Zakharia dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah'.

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening