Jumat dalam Pekan Biasa XI, 19 Juni 2015


2Kor 12: 1-10  +  Mzm 34  +  Mat 6:  19-23

 

 

 

Lectio

Bersabdalah Yesus kepada para muridNya: 'janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.  Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.  Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.  Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;  jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu'.

 

 

 

Meditatio

'Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.  Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya'. Yesus menggunakan bahasa perumpamaan agar para muridNya tetap menaruh perhatian kepada yang di atas, di mana Tuhan Allah bertakhta (Kol 3: 2).  'Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada'. Sebuah penyataan yang benar-benar meneguhkan. Kesadaran diri bahwa kita mempunyai harta di surga, dan terlebih kita ingat sungguh, bahwa warisan kita yang teridah tersimpan di surga (Mzm 16: 5), akan mampu mengarahkan perhatian kita selalu kepadaNya. Ada yang terindah dan mulia yang tersimpan di surga. Dia terindah, karena memang Dia menyelamatkan kita seluruh umat manusia, dan hanya  karena Dia beroleh keselamatan. Kiranya sungguh layak setiap orang menaruh perhatian kepada warisan abadi yang tersimpan di surga.

Keberanian kita berdoa, keberanian  mendengarkan sabda Tuhan, dan juga tentunya melakukan kebajikan sebagaimana dikehendaki  Tuhan Allah sendiri, tak ubahnya kita menaruh harta di surga. Mengapa? Karena semuanya itu kita lakukan dalam dan demi nama Tuhan, sang Empunya kehidupan. Perhatian kita akan aneka kegiatan ini memang memberi bekal secara istimewa kepada kita. Bukankah Yesus sendiri mengatakan, bahwa semuanya ini kalua kita lakukan berarti kita melakukan sesuatu yang tak akan diambil oleh siapapun,  sebagaimana yang telah dilakukan oleh Maria, saudara Marta, keluarga Betania? (Luk 10). Menaruh harta di surga memang benar-benar mnegajak kita untuk tetap bekerja dan bekerja, bahkan untuk mendapatkan harta benda, tetapi tidak tenggelam dalam segala kesibukan diri, melainkan tetap menaruh perhatian kepada Dia yang selalu memperhatikan. Sebab memang harta benda kita akaa berlalu, tetapi sabdaNya tak akan berlalu; dan itulah yang menjadi hara warisan kita di surga bahagia. 

'Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;  jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu'. Tak dapat disangkal memang mata menjadi saluran diri seseorang dengan dunia luar. Ini pandangan klasik, sebab dengan telinga dan kemampuan akal budi, kita dapat berkomunikasi lebih akrab dengan dan bersama dunia. Namun pandangan mata boleh dikata seseorang mempunyai kuasa menikmati segala keberadaan diri sesorang dalam dunia. Ada mata seseorang semakin mampu menikmati dunia apa adanya. Kejernian mata memampukan seseorang  melihat dunia apa adanya, bahkan terasa indah adanya. Sebaliknya,  'jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu'. Kita tidak akan mampu melihat dunia sebagaimana adanya. Segala gelap tidak ada yang indah, karena kita ingin mencengkeramnya, dan dia tidak bebas adanya.

 

 

 

 

Oratio

Ya Yesus, Engkau selalu membuat segalanya baik adanya. Ajarlah kami untuk menikmati semuanya itu dengan penuh syukur, terlebih kalua kami menikmatinya dalam kasihMu. Semuanya tak ubahnya kami menyimpan semuanya itu dalam bejana ilahi.

 

 

Contemplatio

'Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;  jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu'.  

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening