Kamis dalam Pekan Biasa VIII, 4 Juni 2015


Tb 6: 10-11  +  Mzm 128  +  Mrk 12: 28-34

 

 

 

Lectio

Suatu hari  seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?"  Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.  Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.  Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.  Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan."  Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

 

 

 

Meditatio

Suatu hari  seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya.  Entah apa maksud orang itu datang kepada Yesus. Apa juga hendak menjerat sang Guru? Bukankah mereka merasa sepaham dengan Yesus dengan mengakui adanya kebangkitan? Sekali lagi, dia bukan orang yang bodoh. Dia seorang ali Taurat. Dia bertanya kepada Yesus: 'hukum manakah yang paling utama?'.  Apakah dia tidak tahu hukum utama sehingga bertanya demikian? Bukankah dia seorang ahli kitab suci?  Jawab Yesus: 'hukum yang terutama ialah: dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.  Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu'. Mencintai Tuhan Allah adalah sebuah kewajiban bagi setiap orang. Kiranya seluruh perhatian hidup ini kita arahkan kepada Tuhan Allah, sang Empunya kehidupan. Mengasihi Tuhan bukanlah sekedar tambahan atau selingan di tengah-tengah kesibukan kita sehari-hari, malahan sebaliknya hendaknya menjadi perhatian pertama dan utama. Barangsiapa mengasihi orangtua, anak-anak dan segala harta bendanya lebih daripadaKu, dia tidak layak menjadi muridKu. Yesus Tuhan meminta dengan tegas, agar kita menaruh perhatian utama kita hanya kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan.  

'Hukum yang kedua ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Kita diajak mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Sebab memang tidak ada orang yang membenci dirinya sendiri, kecuali diri seseorang yang sedang terganggu kesehatannnya. Setiap orang ingin selalu sehat. Setiap orang ingin selalu berada dalam posisi mandiri. Dia tidak berkekurangan, malahan dapat melakukan segala sesuatu dengan baik adanya. Perhatian penuh terhadap diri sendiri itulah yang hendaknya kita lakukan juga terhadap setiap orang, terlebih yang kita jumpai. Sesama seharusnya menjadi bagian hidup kita. 'Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini', tegas Yesus. Hukum cinta kepada Tuhan dan sesama adalah kewajiban bagi setiap orang. Kedua hukum ini amat mendasar dalam hidup setiap orang. Mungkin kita dapat melakukan segala sesuatu, tetapi bila tidak didasari oleh cinta kasih sepertinya semuanya itu adalah kebohongan. Seandainya aku dapat mengurban diriku untuk dibakar, dan dapat berkata-kata seperti malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, semuanya itu bagaikan gong yang berkumandang. (1Kor 13:1) Semuanya  itu sia-sia belaka. Segala sesuatu yang kita lakukan tanpa cinta kasih, berarti kita lakukan  semuanya itu di luar nama Allah. Sebab Allah adalah Kasih.

'Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.  Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan',  sahut orang itu. Dia ternyata tahu apa yang menjadi hukum pertama dan utama dalam hidup ini. Apakah pertanyaan orang Farisi ini sebenarnya hendak meminta peneguhan dari sang Ahli tentang kehidupan ini? Apakah dengan jawaban itu dia benar-benar mengamini dengan hatinya apa yang dikatakan Yesus.  Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya:  'engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!'.  Yesus yang tahu isi hati dan budi umatNya memuji bahagia orang itu. Dia menjawab dengan jujur apa yang disabdakan Yesus kepadanya. Dia mengamini dengan hati, walau mungkin dia belum bisa melakukan semuanya secara sempurna. Yesus tidak memperhitungkan kelemahan dan keterbatasan umat. Yesus amat terbuka menerima setiap orang yang bertobat dan mau mendekatkan diri kepadaNya.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar mampu selalu mengarahkan hidup kepadaMu, dengan memperhatikan sesama, terutama mereka yang berkekurangan dengan penuh perhatian dan menjadikannya bagian dari hidup kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening