Kamis dalam Pekan Biasa XII, 25 Juni 2015

Kej 16: 1-12  +  Mzm 106  +  Mat 7:  21-29

 

 

 

Lectio

Dalam pengajaranNya Yesus berkata: 'bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.  Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?  Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.  Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya'.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya,  sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

 

 

 

Meditatio

'Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga', tegas Yesus. Ada perbedaan jelas antara berseru-seru kepada Tuhan dan melakukan kehendakNya. Sepertinya ada orang suka berseru-seru kepada Tuhan, tetapi tidak melaksanakan kehendak Dia yang kepadaNya kita berseru-seru dan memuji. Melakukan kehendak Tuhan Bapa di surga memberi jaminan pasti untuk masuk dalam Kerajaan surga daripada mereka yang berseru-seru kepadaNya. Yesus kemudian menambahkan:  'pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?  Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!'. Pelbagai anugerah yang diterima seseorang tidak menjadi jaminan dia menikmati kerajaan surga. Karena pelbagai anugerah dilimpahkan kepada setiap orang agar mampu memperbaharui diri, dan juga untuk pembangunan umat Allah. Dengan pelbagai anugerahNya setiap orang diundang untuk membawa kabar sukacita dan keselamatan bagi sesamanya. Sebaliknya mereka yang melakukan sabda dan kehendak Tuhan mengarahkan dirinya kepada Tuhan sang Empunya kehidupan. Mereka yang benar-benar  melakukan sabdaNya dan kehendak Tuhan, akan mengabaikan segala kecenderungan insani yang mampu mengarahkan kejahatan dan kebinasaan. Namun tak dapat disangkal, orang yang menikmati pelbagai anugerahNya masih sempat memuaskan diri dengan segala kejahatan yang dapat dilakukan. Sebab bukankah memang hujan diturunkan bagi semua orang, baik yang benar atau pun yang jahat?

'Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu'. Penegasan Yesus ini benar-benar menyatakan bahwasannya sabda dan kehendakNya memang mengarahkan setiap orang untuk mendapatkan kemuliaan abadi, tetapi juga ternyata menjadi bekal bagi setiap orang untuk mampu mengendalikan diri dari segala kecenderungan insani atau aneka godaan yang berasal dari luar. Setiap orang yang percaya kepada Tuhan dan mengamini sabda dan kehendak Bapa di surga tak ubahnya mendirikan rumah di atas batu. Kalaupun 'turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Sebaliknya setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya'. Sabda Tuhan tidaklah hanya didengarkan, tetapi juga harus dihayati dalam hidup sehari-hari. Kita diminta tidak hanya menjadi pendengar, yang memang sering malah menipu diri, tetapi juga sebagai pelaksana-pelaksana sabda. Tentu pasti kita semua ingin mempunyai rumah yang kokoh, yang berdiri di batu padas yang kokoh. Kiranya sabda Tuhan akan semakin kita rasakan maknanya bila kita sering menghadapi sebagaimana dialami Abraham. Abraham dengan rela menyetujui usulan Sarah mengambil Hagar sebagai isterinya, tetapi dalam hitungan waktu dia dimintai pertangunganjawab Sarah yang menyuruhnya agar mengambil keputusan terhadap Hagar (Kej 16). Sabda Tuhan tentunya akan memberi inspirasi bagi setiap orang dalam menghadapi aneka persoalan hidup. Panas terik matahari dan siraman hujan persoalan hidup kiranya tidak menjadi kekuatiran , karena ada Tuhan Yesus beserta kita. Kelengahan kita akan kehadiranNya malah akan mendatangkan teguran dari Yesus, sebagaimana kita renungkan Minggu lalu, di mana para murid bersama Yesus dalam satu perahu.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya,  sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

 

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, bantulah kami untuk semakin mengerti akan sabdaMu dan melaksanakannya, agar hidup kami terarah kepadaMu yang mendatangkan keselamatan bagi kami. Jadikanlah kami pelaksana-pelaksana sabdaMu. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening