Minggu dalam Pekan Biasa XI, 14 Juni 2015


Yeh 17: 22-24  +  2Kor 5: 6-10  +  Mrk 4: 26-34

 

 

 

Lectio

Bersabdalah Yesus kepada para muridNya: 'beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah,  lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.  Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu.  Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba." 

Kata-Nya lagi: "Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya?  Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi.  Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya."  Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka,  dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

 

 

 

 

Meditatio

'Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah,  lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu'. Mata insani tidak mampu mengamatinya.  'Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu.  Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba'.  Mengapa Yesus berkata demikian. Bukankah semenjak Perjanjian Lama, Allah sudah menegaskan:  'Aku sendiri akan menanamnya di atas sebuah gunung yang menjulang tinggi ke atas;  di atas gunung Israel yang tinggi akan Kutanam dia, agar ia bercabang-cabang dan berbuah dan menjadi pohon aras yang hebat; segala macam burung dan yang berbulu bersayap tinggal di bawahnya, mereka bernaung di bawah cabang-cabangnya.  Maka segala pohon di ladang akan mengetahui, bahwa Aku, TUHAN, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya?' (Yeh 17:  23-24).

Proses pertumbuhan memang ada, tetapi mata insani tidak mampu melihat secara tegas perkembangan dalam jangka satu detik. Namun tak dapat disangkal, dia tumbuh karena berakar di bumi, dan dari bumi antara lain benih itu mendapatkan santapan dan hidup. Demikianlah Kerajaan Allah itu tidak dapat kita definisikan secara mudah. Kita tidak berkata:  demikianlah Kerajaan Allah itu. Kerajaan Allah tidak dapat ditangkap oleh mata inderawi, tetapi dapat kita nikmati buah-buahnya yang membahagiakan dan penuh sukacita. Apalagi seperti dikatakan Paulus:  hidup kita ini tidak bergantung pada melihat atau tidak melainkan pada percaya (lih. 2Kor 5: 6).

'Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi'. Sebesar apa biji sesawi itu? Bukan lagi kecil, tapi halus, lebih kecil dari biji selasih. Karena kecil dan halus, maka kurang mendapatkan perhatian banyak orang.  'Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya'. Sungguh mengagumkan. Demikianlah Kerajaan Allah itu tidak dapat kita klasifikasikan  terjadi pada aneka yang menggemparkan dan sorak-sorai, melainkan sering terjadi pada peristiwa yang kecil sederhana.  'Pada waktu angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN, tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa, tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu' (1Raj 19: 11-13).  Adakah rasa 'kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri' (Gal 5: 22) diterima seseorang setelah dia memenangi pertandingan lari cepat 100 meter, atau setelah dia mendapatkan gelar sarjana, atau setelah berhasil menyanyikan lagu imagine atau tersenyumlah? Atau harus setelah mendapatkan Awards Indonesia Satu? Dia dapat merasakan segala keindahan rasa hidupnya itu setelah dia mampu menguasai diri dan selalu berkomunikasi dengan Tuhan Allah sendiri. Banyak orang akan merasakan damai dan sukacita ketika mampu memberikan kebahagiaan pada orang lain yang sedang memerlukan pertolongan, atau setiap kali selesai berjumpa dengan orang-orang yang selalu mampu mengendalikan diri, dan mempunyai pengalaman hidup rohani yang relatif tinggi. Adakah rasa dan kesan tertentu yang anda nikmati setelah berjumpa dengan Sri Paus, atau dengan Jokowi, Prabowo,  Herkules, pak Lurah atau pak RT, atau dengan saya? Bedakan tentunya?

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Yesus  memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. Yesus memang berbicara dengan setiap orang sesuai dengan kemampuannya masing-masing, karena memang Yesus ingin dimengerti baik oleh setiap orang yang mendengarNya. Mengerti dan memahaminya seseorang akan sabda dan kehendak Tuhan memungkinkan dia melaksanakan sabda dan kehendak Tuhan. Bagaimana dengan sabda dan kehendak Tuhan yang sulit dimengerti? Apakah keselamatan dari Tuhan itu bergantung pada kemampuan dia mengerti dan memahami sabda dan kehendakNya?

Tak dapat disangkal, diceritakan: 'ketika Yesus sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu.  Jawab-Nya: kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,  supaya: sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun' (Mrk 4: 10-12). Keberanian seseorang menjadi murid Yesus Kristus akan membuat dia mendapatkan kesempatan selebar-lebarnya mendapatkan penjelasan dari sang Guru sang Empunya kehidupan. Demikian juga kedekatan dan keakraban seseorang dengan sang Guru, akan membuat Dia berkata-kata dengan terus terang.  Kata murid-murid-Nya: 'lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan.  Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah' (Yoh 16: 29-30).

Kita pun bisa berkata demikian seperti para muridNya yang kudus.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus, bantulah kami agar mampu terus memupuk iman kami yang hanya sebesar biji sesawi,  lewat doa dan mendengarkan sabdaMu, agar mampu bertumbuh dan menjadi kokoh, yang dapat mendatangkan kebaikan bagi setiap orang. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening