Sabtu dalam Pekan Biasa VIII, 6 Juni 2015


Tb 12: 1-12  +  Mzm   +  Mrk 12: 38-44

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: "Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar,  yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan,  yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat."

Keesok harinya Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.  Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.  Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: 'hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar,  yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan,  yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang'. Yesus meminta para muridNya untuk berhati-hati dan waspada terhadap para ahli Taurat. Karena mereka sangat munafik. Mereka suka tebar citra di mana-mana, bahkan mengelabui umat yang seharusnya dituntun dan dibimbingnya. Mereka malah tak segan-segan memeras pada janda dengan mengambil paksa rumah-rumah orang-orang yang seharusnya mendapatkan belaskasihan itu. Mereka itu kaum munafik. Mereka seharusnya bersikap dan bertindak baik dan hormat. Bukankah mereka itu telah menduduki kursi Musa? Sungguh, 'mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat'. Kemunafikan mendapatkan hukuman dari Tuhan Allah sang Empunya kehidupan, terlebih mereka tidak menaruh hormat terhadap sesama, malah membinasakan sesama yang seharusnya mereka layani.

Keesok harinya Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Jam berapa Yesus sedang duduk di dalam bait Allah, tidak diceritakan memang. Demikian juga sudah berapa lama Dia duduk-duduk di situ. Dia mengamati dan mengamati; apakah tidak ada orang yang mengajakNya berbicara sehingga perhatiannya pada orang-orang yang memasukkan dana ke dalam peti sumbangan. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Sungguh wajarlah yang terjadi, bahwasannya mereka yang mapan hidupnya memberikan lebih banyak sumbangan daripada mereka yang berkekurangan. Bukankah memang mereka yang berkecukupan harus banyak memberi daripada mereka yang melarat hidupnya? Layaklah kalau seorang janda miskin memberi dana sebesar satu duit; tentunya kurang layak bagi mereka yang berstatus janda tetapi tetap hidup dalam kelimpahan. Bagaimana dengan mereka yang mabalu jongjong sebagaimana pernah disebutkan oleh saudara kita Marbun di kota kita?

Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.  Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya'. Penegasan Yesus benar-benar memberi pencerahan baru. Janda miskin itu memang memberi dari segala kekurangannya. Segala yang ada dalam hidupnya itulah yang diberikan. Sedangkan mereka yang kaya hanya memberi dari kelimpahannya; tetapi yang pokok, yang dimilikinya tidak diambilnya sedikitpun. Ini berarti hak milik yang dipunyainya masih utuh dan tidak tersentuh, sebaliknya sang janda tadi segala yang dimiliki itulah yang diberikannya.

Apakah memang itu yang dimaksudkan oleh Yesus? Ya benar, memang begitu, dan itulah yang sering terjadi. Namun kiranya yang lebih dalam lagi adalah soal keberanian memberi dari sang janda itu patut diacungi jempol. Dia tidak memikirkan apa yang hendak dimakannya besok. Dia merasa tidak terikat dengan sedikit yang dimilikinya. Sepertinya dia mempuyai pengharapan yang tinggi akan belaskasih Allah kepada dirinya. Dalam kemiskinannya, dia masih ingat akan orang lain. Dalam perjalanan salibNya, Yesus pun masih sempat menghibur mereka, kaum perempuan Yerusalem yang menangis. Demikian juga Stefanus ketika mendapatkan lemparan batu yang merajamnya, dia masih sempat berdoa, agar dosa-dosa mereka tidak menjadi bahan pertimbangan Dia, Allah yang berbelaskasih, sebab mereka tidak tahu apa yang dilakukannya. Janda itu miskin dalam ekonominya, tetapi dia tetap mempunyai hati kepada orang lain. Dengan memberi dari kekurangannya, sepertinya dia masih meyakini bahwa salib yang dipanggul Anak Manusia pada waktu itu sudah banyak dipikul oleh saudara dan saudarinya yang berkekurangan daripada dirinya. Dia telah merasakan bahwa apa yang dilakukannya sekarang ini hanya dengan memasukkan uang seduit saja sudah dilakukannya demi Kristus Anak Manusia yang ada di depannya, walau dia tidak mengetahui Siapa yang ada di depannya itu. Dia Anak manusia ada di depannya, tetapi Dia hadir secara tersembunyi di hadapannya.

Apakah kita harus menjadi orang-orang miskin? Tentunya tidak juga. Bukankah kita mempunyai hati yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan Allah sang empunya kehidupan? Bukankah sedekah kita juga mampu membangun kehidupan yang lebih sejahtera dalam masyarakat yang ada di sekitar kita? Bukankah uluran tangan kita mampu memberi semangat kepada mereka yang miskin dan menyembuhkan mereka yang sakit. Kita boleh menjadi orang-orang yang mapan hidup, yang mempunyai hati terhadap sesama. Bukankah Yesus sendiri pernah mengatakan kepada kita, bahwasannya segala yang kita lakukan untuk saudara-saudari yang hina itu berarti telah kita lakukan juga kepada Yesus Tuhan?

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, berilah kami hati yang lebih peka, agar semakin berbela rasa terhadap penderitaan orang lain dan berani untuk memberi yang terbaik dari milik kami, agar orang lain dapat mengalami kasihMu lewat tangan dari kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya'.

 

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening