Selasa dalam Pekan Biasa X, 9 Juni 2015


2Kor 1: 18-22  +  Mzm 119  +  Mat 5: 13-16

 

 

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus berkata kepada para muridNya: 'kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.  Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.  Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga'.

 

 

 

 

Meditatio

'Kamu adalah garam dunia', tegas para muridNya. Tentunya kita banyak tahu tentang kegunaan garam. Garam memberi rasa. Adanya garam, suatu makanan semakin bermakna dan bernilai. Para murid adalah garam bagi dunia; maka mereka harus mampu memberi makna dalam berperan di tengah-tengah masyarakat dunia.  'Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang'. Entah jenis garam apa yang bisa menjadi tawar? Namun tak dapat disangkal, ketidakmampuan orang dalam berperan bagi dunia sekitarnya akan membuat dia tersisih dan tidak mendapatkan perhatian dari sesamanya. Apakah berlaku prinsip utilianisme? Mereka yang tidak merasakan makna kehadiran seseorang menyisihkan dan mengabaikan orang itu. Tidaklah demikian dengan ranting yang tidak berbuah, dia pun akan dipangkas dan dimasukkan dalam bara api yang menyala.

'Kamu adalah terang dunia'. Seperti garam, demikian terang akan menjadikan dunia semakin terasa indah dan menyenangkan.  'Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi'. Mana mungkin sebuah kota tersembunyi, tidaklah demikian dengan dusun yang masih jauh dari keramaian.  'Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu'.  Semua orang percaya akan keberadaan sesamanya. Semua orang akan memberi kepercayaan kepada setiap orang menurut perannya masing-masing, bahkan mereka akan menuntut seseorang bila dia tidak mau berperan sebagaimana adanya. Ketidakmauan seseorang untuk berperan sebagaimana mestinya akan membuat dia terbuang dari masyarakt, bagaikan garam yang menjadi tawar, dia akan dibuang dan diinjak orang. 'Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga'. Penegasan Yesus meminta kita untuk selalu mampu berperan dan berbuat baik kepada sesama. Kehadiran seseorang harus memberi makna bagi setiap orang. Keberanian kita berperan dalam hidup bersama akan membuat orang saling mengenal satu sama lain sesuai dengan peran yang kita miliki masing-masing, dan mampu membuat setiap orang berani bersyukur kepada Tuhan. Tuhan sungguh-sungguh hadir dalam diri sesama kita; baiklah kalau kita selalu bersyukur kepadaNya.

Orang yang selalu mengamini sabda dan kehendak Tuhan berarti dia berperan sebagaimana panggilan dan tugas perutusan yang diberikan Tuhan kepadanya. Kamulah garam dunia, dan kita mengaminiNya berarti kita siap melakukan panggilan dan tugas kepercayaan yang diberikan Tuhan Yesus kepada kita. Yesus menegaskan itu kepada kita, karena Dia tahu bahwa kita mampu melakukan panggilan dan tugas perutusan sebagaimana garam dunia. Tuhan Yesus menyapa dan memanggil kita, karena Dia mengenal kita satu per satu. Sebagaimana Yesus mengamini kehendak Bapa di surga, demikian juga kita hendaknya mengamini sabda dan kehendakNya sebagai kesiap siagaan kita dalam memuliakan Allah (2Kor 1: 18-22).

 

 

 

Oratio

Ya Yesus, sabdaMu hari ini kiranya semakin menyadarkan kami akan arti kehadiran kami bagi sesama di sekitar kami. Bila kami mampu memberikan sesuatu yang berarti lewat sikap dan tindakan kami,  orang lainpun akan ikut terdorong memuliakan Bapa di surga. Amin

 

 

Contemplatio

'Kamu adalah garam dunia'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening