Senin dalam Pekan Biasa VIII, 1 Juni 2015


Tb 1: 1-3  +  Mzm 112  +  Mrk 12: 1-12

 

 

 

Lectio

Suatu hari  Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan: "Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.  Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka.  Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa.  Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan.  Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh.  Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.  Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita.  Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu.  Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain.

Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru:  hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita."  Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.

 

 

 

Meditatio

Suatu hari  Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan: 'adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.  Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka.  Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa.  Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan.  Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh.  Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.  Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita.  Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu.  Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain'.  Sebuah perumpamaan yang bagus.  Maksudnya amat jelas. Orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan tidak bertanggungjawab akan mendapatkan hukuman yang berat.

'Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru:  hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita'. Batu seharusnya bergantung pada tukang bangunan, dipakai atau tidak. Tetapi tidaklah demikian dalam karya penyelamatan. Dia sang anak Manusia yang tidak diperhatikan oleh umatNya tetap akan menyelamatkan mereka semua. Dia tidak menjadi pertimbangan dan tidak masuk hitungan, tetapi malah menjadi poin yang menentukan. Itulah anak Manusia. Itulah Yesus Kristus, yang tidak mendapatkan sambutan di umatNya, tetapi Dia dijadikan Allah Bapa sebagai Penyelamat seluruh umat manusia, yang sama sekali bukan bergantung pada jasa dan kebaikan umatNya, melainkan semata-mata kasih Allah.

Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Pandai juga ternyata mereka, karena mereka menangkap maksud Yesus. Mereka sadar bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak menghendaki Anak Manusia, sang Penyelamat itu datang. Mereka sadar juga akan nasib mereka yang tidak beruntung, karena mereka tidak mendapatkan kepercayaan lagi untuk mengelola kebun anggur Tuhan. Mereka marah,  tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, jadikanlah kami pribadi yang selalu mampu bersyukur atas segala hal yang kami alami dan memandang sesama sebagai saudara dalam suka dan duka, sehingga kami dapat menemukan wajahMu dalam diri sesama kami.

Santo Yustinus, doakanlah kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Anakku akan mereka segani.  Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita'.

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening