Jumat dalam Pekan Biasa XV, 17 Juli 2015


Kel 11: 10-14  +  Mzm 116  +  Mat 12: 1-8



Lectio

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.  Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat."  Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,  bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?  Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?  Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah.  Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

 

 


Meditatio

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.  Apakah mereka tidak mampu bertahan sejenak untuk tidak memetik bulir-bulir gandum? Ataukah bisakah mereka memetiknya secara sembunyi-sembunyi, supaya nanti nanti tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain?  Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: 'lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat'. Sebuah pertanyaan yang benar-benar wajar dan normal. Mengapa mereka para murid memetik bulir-bulir gandum, dan mengapa sepertinya sang Guru mereka itu berdiam diri?  Mendengar komentar mereka yang melihat tindakan para murid, Yesus menjawab kepada mereka: 'tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,  bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?  Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?'. Sebuah jawaban yang  penuh kebijaksanaan.  Yesus tidak mau ditenggelamkan oleh aneka aturan hari Sabat. Yesus lebih mengutamakan keberadaan umatNya yang berada dalam kelemahan dan keterbatasan. Nilai manusia hendaknya menjadi perhatian dari setiap peraturan yang dibuat dan disusun oleh siapapun lembaga yang mempunyai kedudukan sosial. Kalau tindakan para pengikut  Daud di bait Allah saja bisa dipahami, apalagi kalau itu suatu tindakan di luar rumah ibadat, seperti di ladang gandum.  'Aku berkata kepadamu: di sini ada yang melebihi bait Allah', tegas Yesus. Bukankah sang Guru mereka adalah Allah, yang menjadi manusia? Bukankah Yesus adalah Tuhan Allah yang amat mengerti keberadaan hidup umatNya?   

'Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah'. Pembiaran Yesus terhadap yang dilakukan Yesus terhadap para muridNya adalah wujud konkrit belaskasih Allah kepada umatNya. Demikian juga pembiaran Allah terhadap tindakan yang dilakukan para pengikut Daud sungguh-sungguh menyatakan bahwa Allah itu penuh belaskasih. Kepercayaan kepada sang Empunya kehiduapan bukanlah ditentukan banyak kegiatan yang dapat kita lakukan, tetapi belaskasih yang dapat kita lakukan, sebagaimana Kristus Tuhan telah melakukannya bagi kita. 'Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat'.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus, Engkau memang penuh belaskasih terhadap kami. Engkau amat mengerti keberadaan kami. Engkau amat mengerti kelemahan dan keterbatan kami sebagai umatMu. Ajarlah kami juga mudah memahami sesama kami, sebagaimana Engkau sendiri. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening