Jumat dalam Pekan Biasa XVI, 24 Juli 2015


Kel 20: 1-17  +  Mzm 19 +  Mat 13: 18-23



Lectio

Pada hari itu berkatalah Yesus kepada para muridNya: 'dengarlah arti perumpamaan penabur itu.  Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.  Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.  Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad.  Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.  Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat'.

 

 


Meditatio

'Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan', kata Yesus kepada para muridNya menerangkan arti perumpamaan yang dberikanNya. Sengsara kali benih-benih yang jatuh di pinggir jalan ini. Mereka sudah tidak bisa mengerti sabda Tuhan, masih datang juga mengambil benih-benih keselamatan itu dari dalam diri mereka. Mengapa Yesus tidak malah menaruh perhatian kepada mereka? Mengapa Yesus membiarkan mereka diganggu oleh yang jahat? Apakah mereka ini adalah orang-orang yang dimaksudkanNya dengan:  siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya?

'Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad'. Apa yang membuat benih-benih sabda itu tidak berakar? Ada banyaknya batu-batu? Orang-orangnya yang bersalah sepertinya. Kodrat mereka memang yang tercipta untuk tidak mau mendengarkan dan meresapkannya dalam hati. Atau memang, bukanlah soal kodrat hidup seseorang, melainkan karena sikap seseorang yang mau mendengarkan sabda Tuhan itu tetapi sebatas membaca koran murahan? Mereka asal membaca kitab suci, tetapi tidak mau berusaha mendalaminya dalam hidup sehari-hari, sehingga ketika ada orang lain mempertanyakan kebenaran sabda itu dia mulai goyah dan tidak percaya? 

'Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,  tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku' (Kel 20: 5-6). Bagaimana memahami sabda dan kehendak Tuhan ini? Adakah di antara kita yang tidak mampu memahami sabdaNya ini kemudian berbalik dari Tuhan Allah sang Empunya kehidupan?

'Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah'. Sebuah gambaran bagi orang-orang yang tidak setia dalam hidupnya. Sabda yang didengarnya tidak dipercayai dan diyakininya. Kekuatiran dan kegelisahan hidup mengganggu mereka, terlebih berkaitan dengan keindahan harta dunia yang menarik hati banyak orang. Bukankah hanya sabda Tuhan yang menyelamatkan? Bukanlah soal  roti, kekayaan dan kuasa, sebagaimana dikatakan Yesus sendiri ketika mengalami pencobaan di gunung (Luk 4), yang dapat menyelamatkan diri seseorang, melainkan sabda dan kehendakNya. 

'Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat'. Perumpamaan ini juga menyatakan bahwa kasih Tuhan tidaklah ditentukan oleh kemampuan usaha seseorang dalam keseharian hidup ini. Allah itu adalah kasih yang terbuka bagi setiap orang. Mereka yang mendengarkan sabda Tuhan dan telah mampu berusaha memahinya pun tidak mendapatkan buah-buah kehidupan yang sama satu dengan lainnya.   Ada yang nilainya serratus, ada yang enam puluh, ada yang hanya tiga puluh. Tuhan yang memberi, Tuhan yang menentukan.

 

 

Oratio

Yesus Kristus,  bantulah kami menjadi orang-orang yang menghayati sabdaMu dalam hidup ini, dan menjadikannya sebagai bekal kehidupan. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat'.

 

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening