Kamis dalam Pekan Biasa XIII, 2 Juli 2015


Kej 22: 1-19  +  Mzm 116  +  Mat 9: 1-8




Lectio

Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat Allah." Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?  Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu :  "Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan orang itupun bangun lalu pulang. Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.





Meditatio

Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Yesus tiba di Nazaret tempat Dia dibesarkan. Apakah Dia mengunjungi Maria ibuNya? Sepertinya tidak. Mengapa Yesus tidak mengunjungi rumahNya terlebih dahulu? Sesampai di kampungNya, dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Dari mana mereka tahu kalau Yesus datang? Apakah kebetulan saja mereka mengetahuiNya? Namun tak dapat disangkal, kedatangan Yesus begitu mudah diketahui banyak orang. 

Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." Tanpa dimintai tolong Yesus segera berkata-kata kepada mereka. Iman mereka yang membopong orang itu juga menjadi pertimbanganNya. Apakah yang yang lumpuh itu masih muda atau sudah tua, Yesus tidak mempersoalkannya. Yesus melihat semua mereka adalah anak-anakNya. Dia memanggil anakKu, karena memang Dia adalah Allah, dan semua orang, kita semua adalah anak-anak Allah. 

"Ia menghujat Allah", seru para ahli Taurat dalam hatinya. Mereka tidak berani langsung berteriak menegur Yesus. Bukankah Dia itu Anak Yosef, tukang kayu? Mengapa berani berkata demikian? Bukankah Dia itu sama dengan kita?  Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?" Yesus langsung menegur mereka. Ketidaktahuan mereka, yang memang seharusnya tahu, karena mereka adalah ahli-ahli, dipandang Yesus sebagai suatu yang jahat.  "Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa", tantang Yesus kepada mereka. Yesus menyatakan Siapakah diriNya. Dia tidak menyebutkan nama dan identitas diri, tetapi cukup hanya dengan segala pekerjaan yang dilakukanNya. Sebab memang Aku datang hanya untuk melakukan kehendak Bapa yang mengutus Aku ( Yoh 6: 38). Yesus datang bukan untuk mengadakan aneka mukjizat, tetapi untuk menyelamatkannya. Lalu berkatalah Yesus kepada orang lumpuh itu :  "Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Bukanlah hal yang sulit bagi Yesus untuk menyembuhkan mereka. Bukankah Dia telah mengusir kuasa kegelapan? Bukankah Dia telah menegur angin badai dan gelombang danau? 

Orang itupun bangun lalu pulang. Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.

Dengan pengampunan dosa memang Yesus tidak langsung menyembuhkan orang lumpuh itu. Yesus memberi yang terpenting bagi hidup orang itu; sekaligus membuka wacana hati bagi setiap orang yang mendengarkanNya. Sekali lagi menyembuhkan orang sakit bukanlah hal yang sulit bagiNya. Mengamini saja apa yang dikatakan dan disabdakanNya memang bukanlah hal yang mudah. Tinggal mendengar dan melihat akan apa yang terjadi, yang hendak dilakukan Yesus, sebenarnya adalah hal yang mudah bagi para ahli Taurat, tetapi tidaklah demikian. Mendengarkan saja sulit, apalagi melakukannya sebagaimana diteladankan oleh Abraham, yang harus mengorbankan anak kesayangannya menjadi kurban bakaran. Allah memang seringkali menuntut kita melakukan segala sesuatu yang lebih tinggi dari kemampuan insani kita, tetapi sebaliknya Dia tidak berdiam diri, melainkan juga memberi ganjaran yang begitu agung dan mulia. Abraham telah mengalaminya sendiri (Kej 22). Kalau Allah pun menuntut, karena Dia pun tahu bahwa kita bisa melakukannya.




Oratio

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk selalu memperbahatui diri, membaharui iman kami dengan mengamini sabda dan kehendakMu. Bantulah kami untuk berani melaksanakannya. Amin.




Contemplatio 

'Imanku telah menyelamatkan engkau'.















Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening