Rabu dalam Pekan Biasa XVI, 22 Juli 2015


Kid 3: 1-4  +  Mzm 63  +  Yoh 20: 1.11-18



Lectio

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Dari tadi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Kemudian sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,  dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.  Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan."  Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.  Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."  Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru.  Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."  Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

 

 


Meditatio

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Dari tadi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Apalah yang memang dapat dibuat oleh seorang perempuan, terlebih bila peristiwa pahit terus menyelimutinya. Bukan meremehkannya, melainkan karena keterbatasan dan kelemahan yang mereka  miliki. Menangis kiranya suatu tindakan yang nyaman untuk mengungkapkan kesedihan hati dan menyembunyikan diri.  Kemudian sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,  dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kehadiran dua orang malaikat, kehadiran sang ilahi, tidak menjadi perhatian dirinya, atau mengalihkan pikirannya sejenak. Hatinya hanya terarah pada Yesus yang dikasihinya. 

Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "ibu, mengapa engkau menangis?"  Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan". Maria hanya memberitahukan apa yang terjadi dalam dirinya. Maria kehilangan Seseorang yang dikasihnya. Dia yang dikaguminya, yang memberikan kehidupan baru kepada dirinya. Dia yang disegani.  Dia yang disembah, sekarang telah hilang; ke mana diletakkan orang.  Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.  Kata Yesus kepadanya:  "ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?".  Dia yang dicarinya kini ada di depannya. Dia yang Ada, tetapi tidak dilihatnya. Dia mencari tetapi tidak melihatNya. Malah Maria menyangka Orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya".  Pikiran emosioanal  Maria mengalahkan kemampuan inderawi. Kenapa Maria bisa bersikap seperti itu? Begitu tenggelamkah dia dalam kepedihan, sehingga matanya dibuatnya kabur? Tak dapat disangkal memang, peristiwa pedih, sakit dan tidak menyenangkan seringkali melemahkan segala kemampuan insani, terlebih lagi kemampuan rohani yang dikagumi sebelumnya. 

"Maria!", sapaan Yesus secara istimewa kepada Maria Magdalena. Dia yang dicarinya, kini memanggil namanya. Panggilan nama mengandaikan panggilan seluruh keberadaan hidup. Maria berpaling dan berkata kepada-Nya: "Guru".  Kata Yesus kepadanya: "janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa".  Sepertinya ketika mendengar sapaan namanya, Maria segera merundukkan diri di hadapan sang Guru, dan hendak memegang  jubahnya; bukankah asal kupegang jubahnya, aku akan sembuh?  Kerinduan yang terjawabi memang terungkap dalam tindakan yang sungguh nyata. "Kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia, sampai kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkan aku" (Kid 3: 4). Gelora kasih inilah yang sepertinya menggelora dalam diri Maria. Yesus melarangnya. Mengapa Yesus melarang Maria memegang diriNya? Bukankah Dia tetap mempunyai tubuh, sebagaimana pernah dikatakan  kepada Tomas, supaya dia menjamah diriNya, bahkan mencucukkan tangan dan jarinya kepada bekas luka-lukaNya? Sepertinya berjumpa dengan sang Mesias, bukanlah soal insani, bukan soal menjamah dengan tangan atau melihat dengan mata kepala sendiri, melainkan soal iman kepercayaan. Berbahagialah mereka yang tidak melihat tetapi percaya.  Untuk itulah, Yesus meminta kepada Mari Magdalena: "pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu".  Yesus menegaskan bahwa Dia bukanlah Orang mati, melainkan Orang hidup, karena memang Tuhan Allah kita adalah sang Empunya kehidupan. Dialah sang Mesias, Putera Allah yang hidup. Dia datang ke dunia selama ini hanya ingin menjadi tebusan bagi seluruh umat manusia. Dia telah menyelesaikan tugas perutusan yang diberikan Bapa di surga, dan kini hendak kembali kepadaNya  guna menyelesaikan tugas perutusan inkarnatifNya. Dia tidak hadir lagi sebagai seorang Manusia, yang mengikatkan diri dalam aliran waktu. Dia akan tetap hadir dalam RohNya yang kudus.  Yesus akan kembali kepada BapaNya yang adalah Bapa kita, kepada Allah kita, karena memang kita semua adalah anak-anak Bapa di surga, dan Kristus Yesus sebagai Putera sulung kebangkitan.

Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!". Maria bangga dengan perjumpamaanNya dengan sang Kekasih hatinya. Dia yang dicarinya itu ternyata hidup.

 

 

 

Oratio

Yesus Kristus, ajarilah kami untuk semakin hari semakin berani percaya kepadaMu. Sebab kepercayaan akan menghantar kami sampai kepadaMu. Engkau yang bangkit dan hidup, hanya dapat kami nikmati bila kami percaya kepadaMu. Barangsiapa percaya kepadaKu akan hidup selama-lamanya.

Santa Maria Magdalena, doakanlah kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio

"Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu". 

 

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening