Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2015


Sir 10: 1-8  +  1Pet 2: 13-17  +  Mat 22: 15-21



Lectio

Suatu hari pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.  Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.  Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"  Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?  Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.  Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"  Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

 

 


Meditatio

'Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka'. Itulah kata-kata manis dan indah yang diucapkan orang-orang Farisi dan kaum Herodian. Mereka memuji Yesus sang Guru, bukan dengan hati dan budi, melainkan hanya dengan bibir manis mereka. Mengapa? Karena memang mereka menjebak Yesus dengan kata-kata seperti itu.  'Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?'.  Sebuah jebakan kata-kata indah. Membayar pajak adalah kewajiban setiap orang kepada pemerintah. Tetapi haruskah kewajiban itu juga diarahkan kepada para penjajah? Kaisar Romawi adalah penjajah bangsa Yahudi pada saat itu.

'Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?', tegas Yesus kepada mereka, yang memang  mengetahui kejahatan hati mereka.  Yesus tahu bahwa mereka berkata-kata demikian hanya karena hendak mencobai diriNya.  'Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu', tambah Yesus. Apakah Yesus tidak tahu mata uang mereka? Yesus tentunya tahu apa yang hendak dilakukanNya.  Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.  Mereka membawa uang yang beredar di tengah-tengah masyarakat.  Maka Ia bertanya kepada mereka: 'gambar dan tulisan siapakah ini?'. Tentunya tidak sulit bagi kita untuk membayangkan mata uang apapun, karena memang mempunyai kemiripan.  Jawab mereka: 'gambar dan tulisan Kaisar'.  Sekali lagi gambar dan tulisan kaisar, karena mereka semua bangsa Israel dalam penguasaan Roma. Gambar dan tulisan mata uang mereka bukan salah satu tokoh besar dalam sejarah bangsa, entah itu Musa atau Elia misalnya.

'Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar,  dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah'. Pajak negara dan bangsa haruslah tetap dibayar, walau itu kaum penjajah. Mengapa? Karena memang itulah realitas sosial yang terjadi pada saat itu. Bangsa Yahudi tidak mampu memimpin dirinya sendiri, maka mereka yang menguasai mereka itulah yang berhak atas pajak sosial.  Demikian juga tentunya pajak hidup haruslah kita berikan kepada Allah, karena memang  Dialah sang Empunya dan Penguasa kehidupan ini. Apakah kita harus mengelak dari kenyataan ini? Bukankah memang kita ini mempunyai kepemimpinan dalam pemerintahan? Bukankah hidup ini juga adalah pemberian dari Tuhan Allah? Bukankah kita hidup atau mati milik Tuhan? (Rom 14); dan bukankah  'di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya, dan di dalam tangan Tuhanlah terletak kemujuran seorang manusia?' (Sir 10: 4-5).

Ketaatan itu memang penting dalam hidup bersama. Petrus dalam suratnya yang pertama menegaskan: 'tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi' (1 Pet 2: 13-17), karena memang 'kepada para pejabat dikaruniakan oleh-Nya martabatnya' (Sir 10: 5).

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar dapat menjadi pribadi yang bertanggung jawab, terhadap bangsa dan negara, terutama tanggung jawab menjadi anak-anakMu yang mampu melaksanakan kehendakMu.

Tuhan Bapa di surga, limpahkanlah rahmat dan berkatMu bagi bangsa dan negara bangsa kami, Indonesia. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar,  dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening