Jumat dalam Pekan Biasa XX, 21 Agustus 2015


Rut 1: 3-6  +  Mzm 146  +  Mat 22: 34-40



Lectio

Suatu hari ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka, dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:  "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"  Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

 

 

 


Meditatio

Suatu hari ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka, dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia. Mengapa mereka selalu mencari dan mencari alasan untuk mempersalahkan Yesus? Kehancuran orang lain sepertinya juga sudah menjadi keinginan orang dalam Perjanjian Lama.  'Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?'. Masakah mereka tidak tahu? Sekali mereka sudah tahu memang, hanya saja mereka hendak mencobai sang Guru dari Nazaret ini. Bukankah Dia bukan lulusan perguruan yang ada di antara kita? bagaimana semua pengetahuan itu diperolehNya?

'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama'. Mengapa mengasihi Tuhan harus dengan segenap hati, jiwa dan akal budi kita? Apakah karena Dia sang Pencipta maka harus kita utamakan? Apakah karena keselamatan hanya dalam Dia, maka hanya kepadaNya kita harus berunduk?  'Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu', ini hukum yang kedua, tetapi sama dengan yang pertama. Apakah ada kaitan satu sama lain? Apakah saling mengandaikan satu sama lain? Satu harus dilakukan, dan yang lain tidak boleh diabaikan dan ditinggalkan. Hukum kedua itu ialah: 'kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Mencintai sesama itu sama dengan mencintai Tuhan; keduanya mempunyai nilai sama, yang memang tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Apakah semua itu menunjukkan bahwa Tuhan Allah itu hadir dalam diri sesama kita? Apa yang kamu lakukan untuk saudaraKu yang hina itu, engkau telah melakukannya bagiKu. Mencintai sesama berarti juga mencintai Tuhan, karena memang milik Tuhanlah kita semua ini; yang tentunya semuanya itu harus kita lakukan dalam nama sang Penyelamat, yakni Yesus Kristus. Sebab bila tidak, orang dapat jatuh dalam moralitas dan humaniora, yang memandang manusia sebatas sesama, tanpa menikmati kehadiran sang Ilahi dalam diri mereka. Bagaimana kita dapat mencintai yang tidak kelihatan, seandainya yang kelihatan saja kita tidak mengasihinya?

'Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Cinta terhadap Tuhan dan sesama adalah hukum pertama dan utama dalam perjalanan hidup ini. Hukum cinta kasih tentunya menjadi acuan dari segala peraturan yang ada dalam hukum Taurat dan para nabi. Bangsamulah, bangsaku; Allahmulah, Allahku (Rut 1: 16). Ucapan Rut inilah yang juga menunjukkan adanya kesatuan dalam mengasihi Tuhan dan sesama.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur atas rahmat kasihMu dalam hidup kami, kiranya kasihMu memampukan kami untuk dapat mengasihi sesama dengan tulus.  Jadikanlah kami menjadi sesame bagi orang lain.

Santo Pius, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening