Kamis dalam Pekan Biasa XIX, 13 Agustus 2015


Yos 3: 7-10  +  Mzm 114  +  Mat 18: 21-30



Lectio

Pada waktu itu datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"  Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.  Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.  Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.  Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!  Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.  Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.  Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?  Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.  Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu".

 

 

 


Meditatio

'Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?'. Sebuah pertanyaan yang baik, yang disampaikan Petrus kepada sang Guru. Apakah Petrus bertanya demikian karena kemarin dia diminta menegur sesamanya yang berdosa di bawah empat mata? Daripada harus mendatangkan saksi, bahkan memanggil jemaat, apakah cukup memaafkan sampai beberapa kali begitu saja?  'Bukan!', sahut Yesus.  'Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali'. Orang harus berani mengampuni dan mengampuni tanpa batas, dan tak perlu dihitung. Sebagaimana seseorang yang meminta akan mendapat, demikian juga bila ada orang bersalah, kita harus berani mengampuni dan mengampuninya.  

'Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.  Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.  Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: bayar hutangmu!  Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.  Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.  Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?  Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya'.

Perumpamaan ini sangat memberi gambaran tegas mengapa kita harus mengampuni dan mengampuni. Pertama, karena kita telah mendapatkan pengampunan yang amat besar dari Tuhan Yesus, yakni tebusan atas kematian dan dosa kita, yang semuanya dilakukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus sendiri. Kedua,  kita diminta berani mengampuni, sebagai ungkapan terima kasih kita kepada Tuhan atas segala rahmat dan berkatNya, terlebih atas karya penebusan yang telah dilakukan Yesus sendiri terhadap kita. Ketiga,  hendaknya kita juga berani bersikap sebagaimana Tuhan Allah  sendiri telah bersikap kepada kita. Sebagaimana Kristus Tuhan telah menebus aneka dosa kita, mengampuni segala dosa dan kesalahan kita, demikian hendaknya kita melakukannya kepada sesama kita. Keempat, ketidakmauan kita untuk berbagi dengan orang lain mendatangkan hukuman. Mengapa? Karena Tuhan Allah menghendaki semua orang beroleh selamat. Kita malah diajak serta dalam karya penyelamatan. Ketidakmauan kita berbagi kasih berarti penolakan terhadap kehendak Tuhan Allah sendiri.  'Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu'.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur atas rahmat kasihMu kepada kami, yang rela berkorban demi penebusan dosa-dosa kami, kiranya kamipun semakin berani belajar untuk berkorban terutama mengampuni tanpa batas, kepada orang yang bersalah kepada kami. Mampukan dan kuatkanlah kami, ya Yesus. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening