Kamis dalam Pekan Biasa XXI, 27 Agustus 2015

1Tes 3: 7-13  +  Mzm 90  +  Luk 7:  11-17



 

Lectio

Suatu hari Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong.  Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu.  Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!"  Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!"  Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya.  Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: "Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Allah telah melawat umat-Nya."  Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

 

 

 

Meditatio

Suatu hari Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong.  Adakah misi khusus Yesus pergi ke kota Nain? Apalagi mereka datang dalam jumlah besar.  Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu.  Banyak orang menaruh simpati pada janda itu. Seorang perempuan janda yang kehilangan seorang anak laki-laki tunggal, berarti semakin hilanglah segala yang dimilikinya.  Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: 'jangan menangis!'. Apakah sang ibu ini berjalan di bagian depan dari perarakan peti jenazah? Namun tak dapat disangkal kepedihan menyelimuti hidup sang ibu janda itu. Dia menangis kembali, setelah kematian suaminya, sebab satu-satunya yang tinggal dimilikinya  hilang juga, karena peristiwa kematian. Kematian membuat hati orang menangis.

Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: 'hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!'.  Yesus menyatakan kuasaNya atas hidup dan mati.  Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya.   Yesus menyerahkan anak itu kepada ibunya. Apakah seorang ibu mempunyai hak milik atas anaknya, sehingga Yesus menyerahkan kepada ibunya? Atau hanya karena kepedihannya saja, maka Yesus menyerahkan anak itu kepada ibunya?  Usia berapa anak muda itu sehingga masih menjadi milik dari seorang ibu? Kalau memang anak muda itu sudah dewasa, masihkah seorang ibu mempunyai hak atas anaknya itu?

Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: 'seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita', dan 'Allah telah melawat umat-Nya'. Sebab memang siapakah yang dapat berbuat demikian bila Allah sendiri tidak berkarya dalam diri Orang itu? Namun kiranya hanya Allah yang dapat membangkitkan dan menghidupkan; maka hari ini Allah datang melawat kita umatNya.  Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

Kalau perempuan janda tadi itu menangisi anaknya yang telah mati, demikian pula sebenarnya Monika, ibu pendoa ini menangisi suami dan anaknya yang masih hidup, tetapi masih mati dan jauh dari keselamatan. Orang hidup adalah orang yang diselamatkan. Dia menangis, karena dua orang yang ada di dekatnya itu belum mau menikmati hidup yang sesungguhnya. Doa adalah sebuah tangisan bila memang diungkapkan dengan penuh kerinduan akan sang Empunya kehidupan. Ibu janda itu menangis, karena anaknya tidak hidup lagi, dan telah mati. Monika juga menangis, karena suami dan anaknya masih belum menikmati hidup yang sebenarnya; mereka hidup tetapi tidak dalam keadaan selamat. Apalah arti hidup tetapi tidak dalam dalam keselamatan.  'Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?' (Mat 16: 26). Seruan inilah yang kiranya dikumandangkan Monika terhadap suami dan anaknya. Doa yang adalah sebuah tangisan tadi ternyata menarik hati penuh belaskasih Tuhan sendiri kepada umatNya. Jangan menangis, itulah yang dikatakan Yesus juga kepada Monika. 'Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!', juga disabdakan Yesus kepada Patrisius suami Monika, dan terhadap Agustinus anak pasutri Patrisius Monika itu. Mereka pun satu keluarga akhirnya sungguh-sungguh hidup.

Bagaimana kita? Paulus, yang juga mempunyai hati sebagai seorang ibu, berkata:  'siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu. Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan kami jalan kepadamu. Kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu. Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya' (1Tes 3: 10-13).

 

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, berikanlah kami hati yang penuh belas kasih seperti hatiMu, yang mudah untuk mengasihi sesama, agar kamipun kelak kedapatan tak bercacat di hadapan Bapa waktu kedatanganMu nanti.

Santa Monika, doakanlah kami, khususnya para Ibu muda, yang memang masih harus banyak belajar menjadi seperti engkau dalam mendampingi suami dan anak-aanak mereka. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: 'jangan menangis!'

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening