Minggu dalam Pekan Biasa XIX, 9 Agustus 2015


1 Raj. 19:4-8 +  Mzm 34 +  Yoh.6:41-51



Lectio

Pada waktu itu bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga." Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?" Jawab Yesus kepada mereka: "Jangan kamu bersungut-sungut. Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepadaKu. Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."

 

 

 

 

Meditatio

Orang Yahudi yang berkumpul pada waktu itu bersungut-sungut, sebagaimana kita renungkan dalam Injil minggu lalu, yang mana Yesus meminta mereka untuk percaya kepada Dia yang diutus Allah.  Hari ini Yesus menegaskan:  "Akulah roti yang telah turun dari sorga".  Berani sekali Yesus mengatakan seperti itu, bahwa Dia itu Roti yang turun dari sorga.  Atas dasar apa Yesus berani mengatakan seperti itu?  'Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal?'  Anak tukang kayu, saudara-saudaranya : Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas, saudara-saudara perempuanNya ada bersama kita? (Mat.13:55-56a)  Itulah pendapat dan pandangan orang secara umum yang memandang seseorang dari sudut lahiriahnya.

Bagaimana Ia dapat berkata: "Aku telah turun dari sorga?".  Orang-orang Yahudi tersebut terpaku dengan pendapat mereka sendiri dengan sang Penyelamat sesuai versi mereka. Mereka banyak mendengar pengajaran, melihat dan mengalami mukjizat Yesus, tetapi mereka tidak mau percaya, memahami sabda dan kehendak Allah. Mereka merasa dirinya lebih tinggi sehingga meremehkan Anak  tukang kayu.

Jawab Yesus kepada mereka: "Jangan kamu bersungut-sungut. Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman".  Yesus menghardik mereka yang bersungut-sungut.  Di sini Yesus menegaskan bahwa hanya kuasa Allahlah yang dapat membuat seseorang datang kepadaNya, bukan karena kemauan dan kemampuan seseorang. Apakah seseorang dengan kemampuannya dapat mendatangi Allah?  Apakah hanya karena rahmat dan anugerahNya? "Mereka semua akan diajar oleh Allah, dan  setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepadaKu. Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa'.  Mereka hanya mendengar dan mendengar.  "Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal", tegas Yesus.

"Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati". Apakah dengan makan roti yang Yesus tawarkan tidak membuat seseorang mati? Tawaran yang dimaksudkan Yesus di sini adalah tawaran keselamatan kekal, bukan sekedar kehidupan fisik yang didapat dengan makanan manna seperti jaman Musa di padang gurun. Kemungkinan pasti, dan tak dapat disangkal, setiap orang akan mati, tetapi barangsiapa menikmati Roti dari Surga akan dibangkitakan di akhir jaman sebagaimana pernah dikatakanNya sendiri.

"Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia".  Penyataan Yesus benar-benar menegaskan kepada kita semua paa muridNya agar beani menerima tubuhNya yang menyelamatkan. Sebagaimana Elia, yang 'oleh kekuatan makanan itu, ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb (1Raj. 19:8), demikian juga kita semua yang beroleh roti hidup yang turun dari surga. Keberanian Elia menikmati roti pemberian Allah membuat dia sampai pada gunung Allah, demikian kita semua yang menerima Roti Hidup akan mencapai puncak gunung perjalanan hidup ini, yakni bersatu dengan Allah dalam kemuliaanNya.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu, karena kasihMu yang begitu besar kami boleh menikmati santapan rohani dalam setiap Ekaristi, yang membawa kami pada kehidupan kekal.

Yesus, Engkaulah  Roti Hidup bagi kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia'.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening