Minggu dalam Pekan Biasa XXI, 23 Agustus 2015

Yos 24: 1-2  +  Ef 5: 21-26 +  Yoh 6: 60-69



Lectio

 Suatu hari sesudah mendengar semuanya itu, bahwa Yesus hendak memberikan tubuh dan darahNya, banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?"  Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?  Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.  Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia.  Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya."

Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?"  Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;  dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."

 

 

 

Meditatio

Suatu hari sesudah mendengar semuanya itu, bahwa Yesus hendak memberikan tubuh dan darahNya, banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: 'perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?'. Bagaimana perkataan itu tidak keras? Sebab dengan tegas dan lantang Yesus mengatakan:  'daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.  Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku' (6: 55-57). Bukankah Dia ini Anak tukang kayu? Bukankah ibuNya bernama Maria, dan sanak saudaraNya ada bersama-sama kita? Mengapa Dia harus berkata begitu?

Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: 'adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?'. Sebetulnya bagaimana yang menggoncangkan iman? Bukankah mereka tidak percaya? Bukankah perkataanNya saja yang terlalu keras, dan sulit dimengerti banyak orang? Iman mereka  manakah yang goncang dan porak poranda karena perkataanNya? Apakah kata-kata Yesus, bahwa hanya Dialah Roti hidup yang turun dari surga itukah, yang menggoyangkan iman mereka?  'Bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?'.  Mengapa kenaikanNya ke surga malah membuat mereka semakin goyah? Apakah memang mereka tidak bisa menerima bahwa Anak Manusia yang tinggal di Nazaret itu menikmati kemuliaan surgawi? Apakah kenaikanNya ke surga seakan memberi kepastian bahwa memang Dia berasal dari Allah dan kembali kepada Allah? PerkataanNya boleh saja keras, kalau memang Dia adalah Allah.

'Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna'.  Daging atau tubuh tanpa roh berarti mati, dan tiada guna. Rohlah yang menyatakan bahwa manusia hidup, walau tak dapat disangkal manusia tidak boleh mengabaikan tubuhnya yang berjalan dalam perjalanan ruang dan waktu itu;  demikian juga,  'perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup'. Karena memang perkataan-perkataan Yesus adalah Sabda Allah sendiri. Dia selalu berkata-kata, bukan dari kehendakNya sendiri, melainkan dari kehendak Dia yang mengutusNya. Keberanian setiap orang untuk mendengarkan sabdaNya akan semakin teguhlah iman kepercayaannya, harapan hidup semakin tumbuh dan berkembang, dan mampu menjabarkan cinta kasihnya terhadap sesama. Sabda meneguhkan iman kepercayaan. Sabda Yesus: ''tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya', dimaksudkan adalah hanya orang yang percaya kepada Tuhan beroleh selamat, dan kepercayaan itu tumbuh karena seseorang mengamini sabda dan kehendakNya. Mendengarkan sabda Tuhan berarti membiarkan diri untuk semakin ditarik Allah  mendekat  kepadaNya.

Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. SabdaNya sulit dimengerti, dan tak masuk akal. Itulah komentar mereka. Kalau kita dengan mudah mengerti sabda Tuhan, yakni segala yang tersurat dalam kitab suci, berarti kita lebih pandai dari Tuhan yang bersabda. 'Apakah kamu tidak mau pergi juga?', tantang Yesus kepada para muridNya.  Jawab Simon Petrus kepada-Nya:  'Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;  dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah'.  Sebuah pernyataan dari seseorang yang menemukan makna hidup, kepada Siapa dia harus berani percaya dan berserah diri. Apakah Petrus mengerti  segala yang difirmankan sang Guru kepada mereka? Dalam kelemahan dan keterbatasannya malahan seorang Petrus berani berserah diri kepada Tuhan Allah, sebab memang  Petrus sempat jatuh-bangun dalam pergaulannya dengan sang Mesias. Petrus percaya kepada sang Guru, bukan setelah dia mengerti segala yang disabdakanNya, melainkan sekali lagi dalam kelemahan dan keterbatasannya dia berani percaya dan berserah kepadaNya.

Jawaban Petrus untuk tetap setia kepada Dia yang telah dipilihnya mengingatkan pengalaman bangsa Israel ketika ditantang oleh Yosua apakah masih mau menoleh ke allah-allhan lain. Israel dengan tegas menjawab:  'jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!  Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui, TUHAN menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kami pun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita' (Yos 24: 16-18).

Paulus dalam suratnya kepada umat di Efesus malah menantang setiap orang yang percaya kepada Kristus untuk berani menjabarkan pilihan untuk tetap setiap kepada Kristus itu dalam keluarga masing-masing. Ketaatan yang melayani sebagai suami isteri adalah wujud nyata dalam mewujudkan cinta Kristus kepada Gereja, dan sebaliknya (Ef 5: 22-32).

 

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk semakin hari semakin setia mendengarkan sabdaMu, sebab memang hanya sabdaMu yang meneguhkan kami dalam perjalanan hidup ini. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;  dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah'.  

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening