Selasa dalam Pekan Biasa XIX, 11 Agustus 2015

Ul 31: 1-8  +  Mzm  +  Mat 18: 1-5.10.12-14




Lectio

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"  Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka  lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.  Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.

Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?  Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang."

 

 


Meditatio

'Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?', tanya para murid kepada Yesus. Mengapa mereka bertanya demikian? Adakah kepastian bahwa mereka dapat masuk surga? Mengapa mereka tidak bertanya dulu siapakah yang dapat masuk surga? Entah kenapa mereka tiba-tiba bertanya demikian.  Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka  lalu berkata: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'. Mereka yang masuk surga adalah orang-orang yang selalu berani bertobat dan bertobat. Bertobat berarti ada kepatuhan diri kepada sabda dan kehendak Tuhan. Bertobat berarti orang membiasakan diri untuk tidak terbawa oleh kecenderungan insani. Ketaatan dan kepatuhan kepada Tuhan Allah tentunya seperti ketaatan dan keberundukan seorang anak kecil terhadap orangtuanya. Mereka taat kepada orangtua mengingat keterbatasan dan kelemahan diri mereka. Bersama orangtua, mereka merasakan sukacita dan senang. Demikianlah dalam ketaatan kepada Tuhan sang Empunya kehidupan

'Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga'. Kesadaran diri untuk terus berani belajar dan belajar seperti anak kecil itulah sikap yang berkenan kepada Tuhan. Kesadaran diri sebagai orang yang tidak tahu banyak persoalan hidup membuat dia berani belajar dan bertanya kepada sesamanya bagaimana belajar tentang kehidupan ini. Aku adalah hamba yang tak berguna, aku hanya melakukan segala yang menjadi kewajibanku.  Inilah kata-kata dan sikap seseorang yang rendah hati, yang hendak menjadi orang terbesar dalam Kerajaan Surga.

'Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku'. Kehadiran Yesus dalam diri orang-orang kecil, hina dan lemah ditampakkan juga dalam diri anak-anak kecil. Berjumpa dengan anak kecil konkritnya kita tidak mendapatkan apa-apa, sebaliknya kita harus memberi dan memberi kepada mereka. tulah perhatian Imani. Kita harus keluar dari dalam diri dan menaruh hati kepada mereka. Namun tak dapat disangkal, tak ubahnya kita menaruh perhatian kepada tumbuhnya biji sesawi, yang tak dapat dilihat dengan mata telanjang, tetapi bila tumbuh dan berkembang, dia akan menjadi pohon yang besar, di mana banyak burung akan bersarang pada ranting-rantingnya. Sambutan yang disertai kesetiaan hati memang tak dapat disangkal adalah perhatian terhadap Tuhan Allah sendiri.  'Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga'. Perhatian terhadap anak-anak kecil adalah perhatian terhadap Tuhan Allah sendiri, karena memang itulah kehendak Tuhan Yesus kepada kita murid-muridNya.

'Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?  Dan Aku berkata kepadamu: sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang'. Pertobatan adalah tindakan yang menyenangkan hati Tuhan. Karena apa? Karena keselamatan akan dinikmati kembali oleh setiap orang, sebagaimana kehendak Allah sendiri agar semua orang beroleh selamat. Allah telah menciptakan manusia sesuai dengan gambarNya, yang baik dan suci adanya, demikianlah ketika mereka harus berpulang, hendaklah mereka kembali dalam keadaan suci murni adanya.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus,  berilah kami kerendahan hati agar dapat bersikap jujur, apa adanya dan selalu bergantung kepadaMu. Dampingilah kami juga agar kami mau belajar dan belajar, serta berani bersyukur atas segala rahmat kasihMu bagi kami.

Santa Clara, doakanlah kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga'.

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening