Selasa dalam Pekan Biasa XVIII, 4 Agustus 2015


Bil 12: 1-13  +  Mzm 51  +  Mat 14: 22-36



Lectio

Sesudah mereka makan sampai kenyang Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.  Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.  Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. 

Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.  Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut.  Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"  Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air."  Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.  Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"  Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"  Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah.  Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." 

Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret.  Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya.  Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

 

 


Meditatio

Sesudah mereka makan sampai kenyang Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Yesus memang yang mempunyai kuasa untuk menyuruh mereka pulang. Tentunya mereka tidak keberatan mengingat Yesus sendiri telah membekali mereka makan sampai kenyang. Yesus malah menyuruh para murid juga pergi mendahuluiNya ke seberang. Hanya saja, setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Mengapa Yesus berdoa seorang diri? Mengapa Yesus tidak mengajak para murid untuk berdoa bersama? Bukankah dengan berdoa bersama mengingatkan mereka untuk selalu berdoa dan bersyukur,  setelah melakukan segala sesuatu dengan baik? Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ, sedangkan   perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angina  sakal.  Apakah benar, setelah para murid meminta diajari bagaimana berdoa, baru Yesus sang Guru mengajarkan? Apakah hanya doa Bapa kami yang diajarkanNya?

Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Sang Anak Manusia ternyata berkuasa atas alam. Dia yang memang mengatasi hokum alam, kini dinyatakannya dengan berjalan di permukaan air. Dengan peristiwa inkarnasi, Dia yang mengatasi hokum ruang dan waktu, mau merundukkan diri pada hokum ruang dan waktu. Dia benar-benar menjadi manusia, sama seperti kita. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru:  'itu hantu!', lalu berteriak-teriak karena takut.  Yesus yang tidak berjalan sebagaimana mestinya  membuat para murid takut dan tekejut. Namun apakah mereka yang sering berjumpa  dalam keseharian hidup tidak begitu hafal melihat Yesus dari kejauhan? Apakah karena gelora angin dan gelombang semakin memperburuk mereka untuk melihat kenyataan yang lebih indah?  

Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: 'tenanglah! Aku ini, jangan takut!'.  Yesus menegaskan diriNya. Mereka para murid diminta untuk percaya. Mereka ternyata sudah bisa melihat, bahwa Yang berjalan mendekati mereka adalah sang Guru.  Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: 'Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air'. Tuntutan Petrus ternyta lebih tinggi lagi, bukan hanya dengan percaya, malah dia meminta supaya diijinkan sang Guru untuk pergi mendekati Dia. Kalau Engkau berkuasa berjalan di permukaan air, tentunya Engkau juga berkuasa memampukan kami juga untuk berjalan yang sama?

'Datanglah!', sahut Yesus kepada Petrus; dan  Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.  Petrus seharusnya berani bersyukur karena dapat berjalan di permukaan air. Petrus mendapatkan kesempatan indah, tetapi tidak menikmati segala yang diterimanya. Dia kurang percaya pada dirinya, dan juga realitas hidup yang dihadapinya. Maka ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: 'Tuhan, tolonglah aku!'.  Apakah Yesus sempat berlari mendekati Petrus yang hampir tenggelam itu. Entah bagaimana peristiwanya, tetapi tak dapat disangkal Yesus segera  mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: 'hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?'. Ketidakpercayaan Petrus yang memang membuat dirinya tidak mampu merasakan kenyataan hidup. Segala sesuatu yang diperkirakan tidak bisa dilakukan, tetapi ternyata dapat kita lakukan, seharusnya menantang kita untuk berani bersyukur kepada Tuhan atas penyertaanNya. Tuhan Allah menjadikan segala mungkin adanya.  Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah; dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: 'sesungguhnya Engkau Anak Allah'. Baru sekarangkah mereka mengakui Yesus adalah Anak Allah? Mengapa hal itu tidak diungkapkan mereka kemarin petang ketika Yesus memperganda lima roti dan dua ekor ikan? 

Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret.  Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya.  Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh. Yesus mebuat segala-galanya baik adanya.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus,  buatlah kami ini semakin hari semakin percaya kepadaMu. Engkau mampu menjadikan segala-galanya baik adanya.

Santo Yohanes Maria Vianney, doakanlah kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Tenanglah! Aku ini, jangan takut!'.

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening