Senin dalam Pekan Biasa XXII, 31 Agustus 2015

1Tes 4: 13-17  +  Mzm 96  +  Luk 4:  16-30



Lectio

Pada suatu kali Yesus datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.  Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:  "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku  untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."  Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. 

Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."  Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?"  Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!"  Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.  Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.  Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.  Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."

Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.  Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali Yesus datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Apakah Yesus singgah terlebih dahulu ke rumahNya? Apakah Dia bersilahturahmi terlebih dahulu dengan sanak kerabat dan tetangga kanan-kiriNya?  Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:  'Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku  untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang'.  Hanya karena kesengajaan Allah, Dia menemukan teks itu.   Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Mengapa Yesus langsung mengembalikan kitab itu kepada petugas? Mengapa tidak langsung menerangkan, bukankah pewartaan harus berdasarkan Kitab Suci?

Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: 'pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya'.  Mengapa tergenapi teks Kitab Suci itu?   'Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku'. Roh Kudus sendiri menyatakan bahwa Dialah Yesus, Anak Allah yang hidup, dan hanya kepadaNyalah Bapa berkenan. Dia datang bukan untuk berkata-kata dari diriNya sendiri, melainkan segala yang didengarkanNya dari Bapa itulah yang disampaikanNya. Dia diutus  untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin,  sebab memang hanya merekalah orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan bantuanNya. Dia diutus  untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, yakni mereka yang tertawan oleh kuasa kegelapan yang membinasakan; kuasa itulah yang membuat mereka tidak mampu lagi melihat kenyataan apa adanya. Mereka melihat segala sesuatu menurut keinginan pikiran diri. Yesus Anak Manusia diutus  untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, sebab Dia ingin membebaskan dan memberi kemerdekaan kepada setiap orang sebagai anak-anak Allah. Anak-anak Allah adalah mereka yang mempunyai hak untuk menikmati keselamatan hidup. Semuanya harus diwartakan sekarang ini juga, karena memang tahun rahmat Tuhan telah datang; yakni hari ini, sekarang juga ketika kita mendengarkan sapaan Tuhan yang menghidupkan itu.

Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: 'bukankah Ia ini anak Yusuf?'. Bagaimana Dia  bisa berkata-kata demikian? Yesus yang tahu si hati dan budi umatNya  berkata kepada mereka: 'tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!'. Yesus tahu bahwa mereka akan menuntut segala yang pernah dilakukanNya di daerah lain. Mereka tidak percaya dan meragukan kemampuan Orang Nazaret ini, tetapi mereka ingin juga membuktikan kehebatanNya. 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.  Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.  Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.  Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu'. Yesus sepertinya menegaskan bahwa segala sesuatu banyak tidak dilakukan di daerahNya sendiri mengingat ketidakpercayaan mereka akan datangNya Yang indah dari Nazaret. Bukan saja orang-orang sejamanNya, malah telah lama terjadi di jaman Perjanjian Lama, yang mana Allah telah mengalihkan perhatian kasihNya kepada orang-orang yang bukan dari kalangan bangsa terpilih.

Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.  Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. Yesus dengan tegas melawan mereka, karena memang Dia tidak mau mati dengan sia-sia. Kematian yang disadariNya adalah kematian yang memberi nyawa menjadi tebusan bagi seluruh umat manusia. Paulus dengan tegas menyatakan: 'jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia' (1Tes 4: 14). Betapa indahnya kepercayaan kita kepada Kristus Tuhan.  Sebagaimana Kristus itu hidup, karena Dialah memang sang Empunya kehidupan, maka kita pun beroleh hidup dan keselamatan daripadaNya.

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus,  jadikan hati kami hati yang selalu bersyukur serta dapat menghargai dan menerima sesama, terutama mereka yang dianggap lemah dan kecil agar namaMu semakin dipermuliakan. Amin

 

 

Contemplatio

'Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening