Jumat dalam Pekan Biasa XXII, 4 September 2015

Kol 1: 15-20  +  Mzm 100  +  Luk 5: 33-39





Lectio,

Pada waktu itu orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum." Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa."  Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: "Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.  Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur.  Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."





Meditatio

"Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum." Itulah pertanyaan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Bukankah puasa adalah usaha peningkatan kualitas hidup agar semakin berkenan kepada Tuhan? Bukankah puasa juga tersurat dalam kitab Taurat yang mengajak kita berani bermatiraga? Mengapa Yesus menghilangkan tradisi indah ini, dan malah membebaskan orang dari kewajiban dalam Pengudusan diri? Mengapa Yesus mengajak para muridNya bersantai ria?

Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa". Jawaban Yesus amat tegas. Pertama, bahwa diriNyalah sang Mempelai laki-laki yang menjadi pujaan dan idaman bagi teman-teman sang Pengantin. Kedua, bersama dengan sang Pengantin teman-temanNya itu tidak perlu berpuasa. Ketika teman-temanNya tidak bersama diriNya, pada saat itulah mereka harus berpuasa. Kapan Dia diambil dari teman-temanNya? Minimal ketika berada di taman Getsemani, didera dan yang secara nyata di saat memanggul salibNya yang kudus. Itulah saat mereka teman-temanNya harus berpuasa. Namun dengan demikian, sekarang ini tidak lagi harus berpuasa, bukankah Yesus telah bangkitkan mulia? Benar, Yesus telah bangkit mulia, tetapi bukankah ketika kita harus berjuang, dihambat dan ditantang berarti kita pun secara nyata memanggul salib kehidupan? Sebagaimana Kristus setia sampai akhir hidup, demikianlah kita hendaknya ajukan berani setia sampai akhir hidup, agar kita beroleh kemuliaan kekal bersamaNya.

'Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu', tegas Yesus. Kain baru harus ditambahkan pada kain baru? Apa gunanya kalau kain baru masih harus ditambal?  Bukan itu maksudnya, tapi yang jelas segala sesuatu harus disesuaikan. 'Demikian  juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur.  Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula'. Isi dan bungkus harus sesuai. Itulah yang dimaksudkan dengan berpuasa tau tidak. Kalau bersama Yesus, mengapa kita masih harus berpuasa? Bukankah kita akan secara otomatis mengendalikan diri sesuai dengan kehendakNya? Bukankah kalau kita mengamini kehendakNya, Dia juga pasti akan memperhatikan dan membantu kita? Sejauh kita sadar bahwa hidup ini adalah jalan salib yang mengarah kepada kehidupan abadi tentunya kita akan selalu mempertanggungjawabkan hidup kita kepadaNya. Kita yang memang tidak mampu menjaga diri, sebagaimana dikehendakiNya, haruslah berpuasa dan bermatiraga.

'Tidak  seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: anggur yang tua itu baik'. Orang yang telah menemukan sesuatu yang indah dan mulia tentunya akan meninggalkan semuanya dan dengan setia akan mempertahankan yang indah dan mulia itu. Barangsiapa telah menemukan mutiara indah tentunya dia akan berani menjual segala harta miliknya untuk mendapatkan yang indah itu, yang lain ditinggalkannya. 





Oratio

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk mampu mengendalikan diri dan mengarahkan hidup ini hanya kepadaMu; terlebih-lebih ajarilah untuk membiarkan Engkau tinggal bersama kami. Amin.




Contemplatio

'Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?'.












Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening