Jumat dalam Pekan Biasa XXV, 25 September 2015

Hag 2: 1-10  +  Mzm 43 +  Luk 9: 18-22

 

 

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: "Kata orang banyak, siapakah Aku ini?"  Jawab mereka: "Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit."  Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah."  Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.  Dan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga."

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Kembali kita temui Yesus berdoa seorang diri tanpa mengikut sertakan para muridNya. Mengapa? Mengapa Yesus tidak pernah mengajak para muridNya berdoa bersama?  Ataukah dikatakan tadi datanglah para muridNya, darimana mereka datang? Apakah karena mereka pergi, maka Yesus berdoa seorang diri?

Lalu Ia bertanya kepada mereka: 'kata orang banyak, siapakah Aku ini?'.  Jawab mereka: 'Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit'. Darimana para murid mengetahui hal tersebut? Apakah mereka pernah mengadakan angket kepada teman-teman mereka? Ataukah memang ada orang yang menyatakan bahwa Guru mereka itu seperti Yohanes Pembaptis atau Elia, atau persis nabi-nabi jaman dulu, karena pengajaranNya sungguh hebat dan benar-benar seorang pemberani yang tidak takut menentang arus kehidupan yang tidak benar? Namun tak dapat disangkal, penampilan Yesus seperti para nabi. Mereka berkata demikian, karena mereka merasakan sungguh kehadiran seorang Nabi di tengah-tengah mereka. Sepertinya tidak banyak yang mengatakan bahwa Dia adalah Orang berdosa, karena menyembuhkan orang pada hari sabat (Yoh 9).

Yesus bertanya kepada mereka: 'menurut kamu, siapakah Aku ini?'. Yesus balik bertanya kepada para muridNya. Mengapa?  Kalau banyak orang saja yang tidak berkumpul bersamaNya tiap hari dapat mengatakan yang baik dan indah, apalagi tentunya mereka yang setiap hari selalu berkumpul bersamaNya. Pengetahuan lebih hendaknya dipunyai oleh seseorang yang merasa selalu berkumpul dengan Yesus. Kalau hidup keagamaanmu tidak lebih dari orang-orang Farisi dan ahli Taurat, apa lebihmu? Kalau orang yang tidak mengenal Allah saja mengasihi sesamanya dan memberi salam, apakah kelebihanmu?  Kasihan kali orang yang tidak mengenal Allah; alangkah menakutkan saat kematian baginya, kata santa Teresia Yesus.  Jawab Petrus: 'Mesias dari Allah'.  Suatu jawaban pasti dari seorang Petrus.  Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun. Inilah kekhasan Yesus. Setiap kali Dia melakukan segala sesuatu yang baik dan mengagumkan, selalu melarang para murid memberitakan apa yang telah dilakukanNya; demikian juga Siapakah sebenarnya diriNya itu.

'Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga', tegas Yesus. Inilah Mesias yang dimaksudkanNya. Mesias bukanlah seorang pahlawan yang gegap gempita; bukanlah pula seorang panglima perang yang gagah berani lagi perkasa; bukan pula seorang arsitek peperangan. Mesias yang ada di depan para muridNya adalah seorang Anak Manusia yang menanggung banyak penderitaan. Dia bukanlah seorang yang bebas dari rasa sakit dan derita. Dia adalah Anak Manusia yang tahu apa artinya menderita. Dia ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Dia bukanlah seorang yang didukung dan diagung-agung para pemimpin agama dan kepercayaan. Dia sepertinya di luar konsep pemahaman kaum religius.  Dia akan dibunuh.  Dia tahu artinya menderita, bahkan tahu apa artinya mati, tidak bernafas lagi, dan turun ke liang kubur. Mesias adalah seorang yang pernah merasakan apa itu artinya mati. Dia pernah mati dan dibangkitkan pada hari ketiga. Dia hidup kembali, karena Allah menghendakiNya. Allah secara sengaja mengutus AnakNya yang tunggal menjadi kurban tebusan bagi seluruh umatNya. Dia mati dan bangkit demi keselamatan seluruh umat manusia. Inilah Mesias sejati: Seorang Manusia yang mati di kayu salib demi keselamatan manusia. Dia mau mati, karena memang Dialah Allah yang menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah umatNya.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami lewat sabdaMu untuk semakin mengenali siapa Engkau sesungguhnya, Allah sendiri yang menjadi manusia demi menyelamatkan kami. Engkaulah Mesias kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Siapakah Aku ini?'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening