Kamis dalam Pekan Biasa XXII, 3 September 2015

Kol 1: 9-14  +  Mzm 98  +  Luk 5: 1-11





Lectio 

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.  Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.  Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."  Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap;  demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.





Meditatio

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Banyak orang kagum memang kepada Yesus. AjaranNya penuh kuasa dan sungguh-sungguh membebaskan. Setiap kali mendengarNya orang mengalami sukacita.  Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.  Mengapa Yesus memilih perahu Simon? Apakah hanya kebetulan saja posisi perahu satu murid itu amat pas? Dengan mengajar dari perahu, maka Yesus tidak akan berputar-putar waktu mengajar; lagi pula agar Dia tidak terhimpit oleh desakan banyak orang yang ingin mendekat kepadaNya. 

Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon:  'bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan'. Apakah Yesus menyuruh demikian, setelah Dia menyuruh pulang semua orang yang mendengarkan ajaranNya? Mengapa Yesus tiba-tiba menyuruh Simon untuk menangkap ikan? Apakah Dia melihat para muridNya itu lapar? Atau Dia mempunyai maksud tertentu?

Simon menjawab:  'Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga'. Simon berkomentar demikian karena memang dia adalah seorang nelayan. Mungkin dia lebih pandai mencari ikan daripada Yesus, Anak tukang kayu. Namun dia dengan rela taat kepada sang Guru yang memintanya. Kepandaian setiap orang berbeda satu dengan lainnya; tetapi seorang pribadi yang dewasa yang tahu menempatkan diri, akan rela dan taat kepada guru, atau seorang pemimpin, yang kepadanya dia menaruh kepercayaannya.  

Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Mukjizat sungguh terjadi! Simon yang mengenal laut tidak bisa berkata apa-apa. Karena yang dialaminya sekarang di luar prakiraan insani. Dalam namaNya segala-galanya terasa semakin indah. Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: 'Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa'. Mengalami yang indah membuat seorang Simon menyadari keterbatasan dirinya. Segala yang indah dan mulia memang selalu berasal dari Atas. Simon yang merasa tahu segalanya harus merunduk di hadapan sang Guru. Dalam Dia segalanya indah adanya. 

Ketaatan seorang Simon mengingatkan kita untuk semakin memahami kehendak Tuhan bukanlah dengan hanya mendalamiNya dengan akal budi, kita pasti tidak akan sampai mengenalNya, tetapi sebaliknya hanya dengan berunduk dan mentaati kehendakNya itu sendiri kita akan mengerti apa yang dimaksudkan Tuhan bagi kita. Paulus dalam suratnya kepada umat di Kolose meminta kita; katanya:  'kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,  sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah' (Kol 1: 9-10). Untuk mengerti sabda dan kehendak Tuhan, kita harus pertama-tama mengaminiNya dalam hidup, dalam sikap dan perilaku hidup kita ini.  Simon dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap;  demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. 

Melihat Simon dan para muridNya yang lain, Yesus kepada Simon: 'jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia'. Simon diminta tidak gelisah dan minder, malah Yesus menjadikan mereka sebagai penjala-penjala manusia. Apakah mereka mengerti yang dimaksudkan Yesus? Bagi mereka, dan bagi kita, sulit sepertinya. Namun Yesus yang tahu siapakah kita pasti menjadikan segalanya mungkin, dan Dia tidak akan tinggal diam terhadap orang-orang yang dikehendakiNya.  

Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. Mereka tidak menikmati ikan yang telah ditangkapnya itu, sebab memang Yesus menyuruh para murid menangkap ikan hanya untuk mengingatkan bahwa mengikuti Dia, seseorang dapat melakukan segala yang indah dan baik adanya. 





Oratio

Ya Yesus, semoga setiap kali menikmati segala yang indah dan baik adanya, kami ingat akan Engkau, dan bahkan semakin berani mengikuti kehendakMu yang menyelamatkan. 

Santo Gregorius, doakanlah  kami. Amin.




Contemplatio

'Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga'.






Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening