Pesta Rasul Matius, Penulis Injil, 21 September 2015


Ef 4: 1-7  +  Mzm 19  +  Mat 9:  9-13

 

 

Lectio

Suatu hari hari Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.

Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.  Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"  Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.  Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

 

 

 

Meditatio

Suatu hari hari Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: 'ikutlah Aku'. Apakah memang Yesus sudah tahu bahwa si pemungut cukai ini bernama Matius? Atau memang sebutan dari sang penulis Injil itu sendiri? Namun tak dapat disangkal, Yesus mengenal sungguh siapakah orang yang dipanggilNya itu. Dia memanggil Matius, dan bukannya yang lain.  Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Apakah Matius juga sudah mengenal Orang yang memanggil dirinya itu? Tidak sepertinya.  Namun itulah iman kepercayaan. Iman tidak menuntut Dia yang dipercayainya itu diketahuinya dengan baik dan dapat masuk akal budinya. Iman meminta keberanian seseorang untuk berserah kepadaNya sang Empunya kehidupan itu. Ketidakmampuan akal budi memahami Siapakah Dia, karena memang Dia itu Mahakuasa. Kita bagaikan setetes air pada pinggir timba.

Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Kapan itu terjadi? Apakah sebelum pergi jauh, mengikuti sang Guru yang memanggilnya, Matius mengajak dulu singgah di rumahnya? Atau memang di kemudian hari, karena memang Injil tidak menceritakan kronologis peristiwa demi peristiwa? Namun sungguh terjadi, Yesus makan bersama para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Matius memang seorang pemungut cukai. Dia bukanlah orang yang kebetulan duduk-duduk di kantor pemungut cukai, ketika dipanggil sang Guru.

Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: 'mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?'. Mengapa mereka orang-orang Farisi tidak bertanya mengapa kalian makan bersama orang-orang berdosa, apakah para murid tidak ikut makan bersama sang Guru? Apakah karena  memang Yesus sendiri yang menjadi sasaran tembak mereka? Posisi para pemungut cukai dan orang-orang berdosa itu sama. Entah bagaimana mereka bisa menyebut sekelompok orang sebagai kaum pendosa; adakah kriterianya sehingga mereka disebut kaum pendosa?

Yesus mendengarnya dan berkata: 'bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit'. Benar memang. Orang-orang bodoh yang memerlukan guru? Hanya mereka yang tidak  bisa berbicara hukum yang memerlukan pengacara? Hanya anak-anak yang memerlukan orangtua?  'Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa'. Belas kasihan lebih penting daripada persembahan. Persembahan memang penting dan perlu sebagai ungkapan rasa syukur, tetapi tentunya kita tidak bisa mengubah bahwa persembahan menggantikan belaskasih yang memang harus kita berikan kepada sesama. Benarkah memang kita begitu dengan mudah memberikan kolekte dan dana bansos tetapi begitu keras terhadap para pembantu rumah tangga kita?  Sungguh beranikah kita berkata kepada kedua orangtua kita 'apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah?' (Mat 15: 5). Semuanya itu tidak ubahnya, kita seperti orang-orang Farisi yang 'membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi mengabaikan keadilan dan kasih Allah' (Luk 11: 42). Yesus yang datang hendak menyelamatkan umat manusia, maka dengan sadar dan sengaja Dia memanggil dan merangkul orang-orang berdosa.

Kalau hari ini kita merayakan pesta santo Matius, karena kita kembali diingatkan oleh Gereja, bahwa kita adalah orang-orang yang telah dipilih Allah berkat pewartaan karya Allah yang disampaikan oleh para nabi dan rasul, termasuk santo Matius yang adalah salah seorang dari mereka. Allah sendiri 'yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, termasuk Matius,  untuk memperlengkapi orang-orang kudus, kita semua, bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,  sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus' (Ef 4: 11-13). Tentunya kita yang telah dipilih dan diselamatkan, baiklah kalau kita membagikannya kepada sesama kita, agar semua orang beroleh selamat. Caranya tidak lain dan tidak bukan ialah dengan 'selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar; menampakkan kasih itu dalam hal saling membantu; dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera' (Ef 4). Pesta santo Matius mengajak kita untuk berani berbagi kasih kepada sesama.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, seringkali kami begitu mengedepankan ilmu pengetahuan dan akal budi dalam perjalanan hidup kami, dan kami secara berani mengabaikan kuasaMu. Sadarkanlah kami, bahwasannya akal budi kami amat terbatas, dan tidak akan sampai kepadaMu, bila tanpa iman yang mendalam.

Yesus, bantulah kami agar dapat memberi dengan ketulusan hati sebagai ungkapan syukur atas kasihMu kepada kami. Terutama ketika harus membantu mereka yang tersisih.

Santo Matius, doakanlah kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening