Pesta Santo Albertus dari Yerusalem, 17 September 2015


1Tim 4: 12-16  +  Mzm 111  +  Luk 7:  36-50

 

 

Lectio

Pada suatu hari seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.  Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.  Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.  Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa."  Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru."

"Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.  Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?"  Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu."  Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.  Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.  Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."  Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni."  Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?"  Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"

 

 

 

 

Meditatio

Pada suatu hari seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.  Sejauh mana pengenalan orang Farisi itu sehingga dia berani mengundang Yesus? Apakah Yesus juga memperhitungkan maksud undangan orang Farisi itu?

Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Perempuan itu punya nama di kota itu; hanya saja dalam perikop ini tidak disebutkan siapakah dia itu. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.  Siapakah yang memberitahukan kepada dia? Apakah kehadiran Yesus mengundang perhatian banyak orang, sehingga dia pun sempat mendengarNya? Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.  Pemberani sungguh perempuan satu itu. Dia tidak kuatir dan gelisah dengan orang-orang besar yang mengenalinya. Dia tidak mau tahu dengan komentar orang terhadap dirinya. Dia maju ke depan, dan dia tahu benar Siapakah yang hendak dicarinya. Dan anehnya semua orang yang ada di situ diam seribu bahasa tidak berkomentar sedikitpun.  

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: 'jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa'. Semua ternyata takut juga berkomentar, walau dalam hatinya mereka memprotes keras tindakan itu. Itulah yang dikatakan dalam hati orang Farisi ini. Orang Farisi ini sepertinya meragukan kenabian Yesus. Orang Farisi ini tidak bertanya-tanya mengapa Yesus membiarkan perempuan berdosa itu bertindak demikian.  Lalu Yesus berkata kepadanya: 'Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu'. Sahut Simon: 'katakanlah, Guru'. Orang Farisi ini meragukan kenabian sang Guru, tetapi taat juga dia ketika Yesus meminta dirinya untuk mendengarkan.

'Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.  Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?'. Sebuah perumpamaan yang sangat sederhana. Orang yang menerima banyak tentunya dapat memberi banyak pula.  Jawab Simon: 'aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya'. Orang Farisi itu dapat menjawabNya dengan mudah; dan Yesus membenarkannya.   'Engkau lihat perempuan ini?', tegas Yesus kepada orang Farisi itu.  'Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.  Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi'. Yesus membandingkan orang Farisi itu dengan wanita yang melayani diriNya itu.  'Sebab itu Aku berkata kepadamu: dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih'. Perbuatan kasih, yang memang dilandasi perasaan iman yang dimiliki perempuan berdosa itu mendatangkan berkat dan pengampunan dari sang Empunya kehidupan.  'Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih', tegas Yesus. Lalu perempuan berdosa ini sebenarnya termasuk yang mana? Apakah dia telah mendapatkan pengampunan atau belum? Atau memang dia mengharapkan pengampunan, sehingga dia berani melakukan sebuah tindakan yang sulit dan tidak masuk di akal?

'Dosamu telah diampuni', kata Yesus kepada perempuan itu. 'Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!'. Perempuan itu memang datang kepada Yesus karena dia percaya dan percaya kepada sang Guru. Kepercayaannya itulah yang menomerduakan segala yang lain. Dia berani  datang kepada Yesus karena percaya kepadaNya. Dia melakukan segala sesuatu, di luar kemampuan nalar sesamanya, hanya karena iman kepercayaannya kepada Tuhan. Iman itulah yang memang menyelamatkan dirinya. Iman itulah yang mendatangkan rahmat pengampunan dari Empunya kehidupan. Dan Yesus sendiri tidak memperhitungkan segala keterbatasan dan dosa yang dimiliki orang-orang yang datang kepadaNya. Kedatangan setiap orang kepadaNya membuat hati Tuhan bersuka cita, dan semakin membuat hatiNya terarah kepada umatNya.

'Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?', kata orang-orang Farisi, sekelompok orang yang tahu banyak tentang kitab suci, tetapi tidak menemukan kehadiran Dia yang tersurat dalam kitabNya yang kudus. Perempuan berdosa ini ternyata lebih mengenal Anak Manusia yang datang hendak menyelamatkan, daripada mereka kaum Farisi yang banyak membaca kitab suci. Kesalahan mereka adalah membaca, tetapi tidak melaksanakan segala yang tersurat dalam kitab suci itu.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus , ajarilah kami untuk berani datang kepadaMu. sebab memang semenjak semula Engkau mengundang dan mengundang kami. Engkau malah memberi kami rahmat dan keselamatan.

Santo Albertus, doakanlah kami agar kami semakin hari semakin berani datang kepada Yesus sang Guru. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening