Rabu dalam Pekan Biasa XXII, 2 September 2015

Kol 1: 1-8  +  Mzm 52  +  Luk 4: 38-44




Lectio

Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia.  Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka.  Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus." Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.





Meditatio

Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Yesus tidak mau tertahan dengan orang-orang yang kagum terhadap diriNya. Yesus segera meninggalkan rumah ibadat itu. Kenapa Dia pergi ke rumah Simon? Apakah Dia juga hendak mengunjungi rumah-rumah para muridNya? Apakah kunjungan Yesus ke rumah Simon sebagai wujud nyata dari bina-lanjut sebagaimana digembar-gemborkan dalam dunia pendidikan dewasa ini? Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia.  Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Yesus tidak mengajak para muridNya berdoa terlebih dahulu, tetapi langsung menyembuhkan sang ibu. Mengapa Yesus tidak mengajari mereka untur berdoa dulu sebelum mengadakan mukjizat penyembuhan? Yesus amat jarang mengajak para muridNya untuk berdoa.  Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. 

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Darimana mereka tiba-tiba tahu bahwa Yesus ada di situ? Keberanian orang untuk datang kepadaNya malah mengundang belaskasih Tuhan. Dia mengamini kemauan dan keinginan orang-orang yang datang kepadaNya. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: 'Engkau adalah Anak Allah'.  Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Sekali lagi kuasa kegelapan itu mengetahui Yesus, tetapi mereka tidak mengenalNya. Ketidakmauan Yesus untuk diberitakan namaNya apakah dapat diartikan apalah arti menyebut namaNya, tetapi tidak mau mengenalNya. Apalah arti berseru Tuhan Tuhan, tetapi tidak melakukan kehendakNya? Yesus pun tidak ingin dikenali umatNya, hanya karena kata orang; Allah menghendaki agar setiap orang berseru kepadaNya benar-benar keluar dari lubuk hatinya yang terdalam.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Untuk apa Dia pergi ke tempat yang sunyi? Pasti untuk berdoa dan berdoa. Namun sekali lagi, mengapa Yesus tidak membiasakan para muridNya berdoa, berdoa bersamaNya? Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Mereka tentunya ingin Yesus tinggal aja selamanya tinggal bersama mereka. Mereka ingin, bukan saja mendirikan kemah bagi Yesus, malah tentunya ingin menjadi Dia raja.  Tetapi Ia berkata kepada mereka: 'juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus'. Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Yesus setia kepada tugas perutusan yang diembankan Bapa yang mengutusNya. Kesetiaan dalam tugas perutusan, dan tidak mengikatkan diri pada tempat tertentu, adalah sikap seorang Tuhan Allah. Kita dapat menjadi manusia Allah, the man of God, kalau kita setia selalu pada tugas perutusan yang dipercayakan Tuhan kepada kita.  

Yesus memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. Kita dapat mengenal kabar sukacita, kita dapat mengenal keselamatan, bahkan menikmati keselamatan itu, karena pewartaan Injil oleh Allah sendiri yang mewartakan. Paulus menyadari sungguh pewartaan sang GuruNya itu dengan berkata:  'Injil itu berbuah dan berkembang di seluruh dunia, demikian juga di antara kamu sejak waktu kamu mendengarnya dan mengenal kasih karunia Allah dengan sebenarnya'. Layaklah kalau kita selalu mengamini sabda dan kehendakNya. 





Oratio

Ya Tuhan Yesus, Engkau selalu mengamini kemauan setiap orang yang berani datang kepadaMu. Tanpa lelah Engkau mewartakan kasih Allah yang menyelamatkan. Ajarilah kami, ya Yesus, untuk semakin hari semakin setia dalam tugas perutusan,msebagaimana Engkau lakukan, dan siap membawa kabar sukacita bagi sesama kami. Amin.





Contemplatio

'Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus'.










Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening