Rabu dalam Pekan Biasa XXIII, 9 September 2015

Kol 3: 1-11  +  Mzm 145  +  Luk 6: 20-26





Lectio

Pada suatu hari Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.  

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."





Meditatio

"Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah",  tegas Yesus kepad para muridNya. Betapa bahagianya menjadi orang-orang miskin. Menjadi kaum miskin berarti menjadi orang-orang yang mempunyai Kerajaan Allah. Apakah kita memang tidak perlu bekerja dan mencari nafkah? Bagaimana dengan anjuran Paulus agar kita tetap berani bekerja dan bekerja? Apakah memang Yesus tidak menghendaki kita semua menjadi orang-orang yang miskin dan melarat? Sungguh benarkah bahwasannya sukar sekali bagi orang kaya untuk masuk dalam Kerajaan Allah, tetapi lebih mudah seekor unta masuk dalam lubang jarum?  

"Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan". Lapar di sini dimaksudkan adalah orang-orang yang kelaparan, sulit mendapatkan aneka makanan dan minuman? Atau memang cukup bagi mereka yang secara sengaja melaporkan dirinya dan berpuasa? 
"Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa".  Kapan akan tertawa? Apa ada tenggang waktu yang cukup lama? Apa yang menyebabkan mereka tertawa? Bagaimana orang dapat menjadi pemilik Kerajaan Allah kalau untuk beli makanan saja kita tidak mampu? Bukankah kita harus menjadi miskin? Kita yang tiba-tiba lapar itu bagaimana akan menjadi kenyang dan dipuaskan? Makanan apa yang hendak disajikan? Bagaimana kita yang menangis dan bersedih tiba-tiba dapat tertawa? 

"Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat". Mengikuti dan percaya kepada Yesus Anak Manusia ternyata membawa risiko yang tidak ringan. Siapakah yang akan membenci, mengucilkan, mencela dan menolak kita bila kita percaya kepadaNya? Bukankah namaNya adalah Yesus, yang artinya Allah menyelamatkan, tetapi mengapa yang percaya dan mengikutiNya malah mendapatkan aneka perlawanan dan pertentangan? Dalam aneka kesulitan, bahkan derita, Tuhan tidak berdiam diri. Semuanya memang harus terjadi, karena memang itulah risiko sebuah sikap dan pilihan hidup. Karena itu, "bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi".    

"Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu". Apakah kita memang tidak boleh menjadi kaya? Apakah sekarang ini kita tidak boleh mendapatkan penghiburan dan menikmati aneka sorak-sorai?   "Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar". Bagaimana kalau selama ini kita tidak makan sampai kenyang? Bukankah kita meminta untuk mendapatkan rezeki secukupnya? "Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis". Apakah kita tidak boleh bergurau selama hidup ini?  "Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu".

Yesus memuji dan sekaligus mengecam orang-orang yang mendengarkanNya. Kita termasuk kategori mana? Apakah kita termasuk orang yang mendapatkan pujian daripadaNya? Bersyukurlah selalu. Habis gelap memang akan timbul terang. Sebaliknya orang-orang yang mencari kepuasan diri selama ini akan mendapatkan balasan yang setimpal daripadaNya. Paulus dalam suratnya kepada umat di Kolose, bahwasannya kita tidak berbicara soal tertawa dan sedih, lapar dan kenyang, miskin dan kaya; kita semua tidak hanya mengarahkan pada perihal duniawi, melainkan pada perkara surgawi di mana Dia sendiri bertakhta di surga, konkretnya hendaknya kita 'mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya' (Kol 3).




Oratio

Ya Yesus Kristus,  jadikanlah kami ini orang-orang yang berbahagia, sebagaimana Engkau harapkan sendirian, yakni dengan melakukan segala yang baik dan berkenan padaMu, terlebih dengan melaksanakannya kehendakMu sendiri yang menyelamatkan. Amin.




Contemplatio 

"Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat".










Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening