Rabu dalam Pekan Biasa XXV, 23 September 2015


Ez9: 5-9  +  Tb. 13:2,-4 +  Luk9: 1-6

 

Lectio

Maka Yesus memanggil kedua belas muridNya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang, kataNya kepada mereka: "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka." Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.

 

 

 

Meditatio

Setelah Yesus mengadakan beberapa mukjizat dalam perjalananNya, sekarang tiba saatnya Yesus mempersiapkan para murid untuk melanjutkan karyaNya. Maka Yesus memanggil kedua belas muridNya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Apakah para murid selama ini tidak diberi kuasa untuk melakukan penyembuhan atau menguasai setan? Mengapa baru sekarang diberikanNya? Namun sebenarnya, mereka itu diutus ke mana dan untuk berapa lama? Bukankah mereka selalu mendampingi Yesus sang Guru, dan bukannya mereka selama ini masih dalam pembinaan sang Guru? Sehebat apakah mereka dapat melakukan segala sesuatu berdasar kekuasaan yang mereka terima? Mungkin terlalu mengada-ada kita bertanya-tanya, tetapi kiranya penting bagi kita untuk renungkan, bahwasannya Yesus selalu mengutus para muridNya, karena memang itulah tugas perutusan yang ditrimaNya juga dari sang Bapa di surge.

Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang, kataNya kepada mereka: 'jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju'. Keras juga pesan Yesus bagi para murid untuk tidak membawa apa-apa dalam perjalanan mereka. Apakah Yesus menghendaki para murid seperti diriNya melakukan perjalanan tanpa membawa bekal ataupun keperluan pribadi? Ataukah Yesus tidak menghendaki murid-muridNya terbebani dengan barang bawaannya? Tentunya Yesus mempunyai maksud dengan semuanya ini, supaya para murid tidak terikat dengan barang yang bersifat duniawi, sebaliknya harus memusatkan perhatian pada tugas perutusannya. Aneka fasilitas ada sebatas penunjang dalam karya pewartaan, dan bukannya menjadi perhatian utama. Bahkan, Yesus sendiri menegaskan agar setiap pewartaa menyampaiakan sabda dan kehendak Allah, dan bukannya pengetahuan umum atau kemampuan pribadi dalam mengenal Allah. Sabda dan kehendak Allah adalah inti pewartaan Injil Kerajaan Allah.

'Apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka'. Apa makna dari mengebaskan debu dari kaki? Apakah sungguh-sungguh membersihkan debu yang ada di kaki? Ataukah hanya kiasan? Yesus memberi peringatan keras di sini, bahwa keselamatan itu ditawarkan kepada setiap orang, mereka punya kehendak bebas untuk menerima atau menolaknya. Tetapi tak dapat disangkal, Yesus tidak pernah menghendaki seorangpun tidak selamat, seperti dikatakanNya sendiri:  'demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang' (Mat 18: 14). Maka bagi mereka yang menutup diri terhadap pewartaan Injil berarti menolak keselamatan yang telah ditawarkan kepadanya, mereka sengaja memisahkan diri. Jadi kebaskan debu di sini berarti suatu peringatan keras agar mereka tidak menolak keselamatan itu. mendengarkan pewartaan Injil adalah kewajiban bagi setiap orang yang merindukan keselamatan.

Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat. Perutusan para murid itu untuk menyelamatkan orang-orang baik keselamatan tubuh maupun jiwanya. Penyesalan dan tobat sebagaimana dikumandangkan Ezra (bab 9) adalah sikap yang tepat dan benar dalam menanggapi sabda dan kehendak Tuhan. Tidak ada istilah terlambat dalam mengejar keselamatan; pertobatan justru awal baik bagi setiap orang untuk berani mengamini sabda dan kehendak Tuhan.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus, kami bersyukur dapat menikmati kasihMu yang begitu indah di dalam hidup kami, kiranya kamipun semakin berani dalam mewartakan sabdaMu sehingga semakin banyak orang menikmati keselamatan daripadaMu.

Santo Padre Pio, doakanlah kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening