Sabtu dalam Pekan Biasa XXII, 12 September 2015


1Tim 1: 15-17  +  Mzm 113  +  Luk 6:  43-49



Lectio

Pada suatu hari Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.  Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.  Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.

Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?  Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya -- Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan --,  ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.  Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya."

 

 

 

 

Meditatio

'Tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.  Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur'. Sungguh benar penyataan ini. Namun bagaimana dengan penyataan ini, yang berdasarkan perbandingan tadi:  orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya. Seharusnya memang begitu, tetapi tidak dapat disangkal egoisme diri dan kepentingan diri, orang dapat bersikap dan bertindak munafik. Apa yang dikatakan dan dikerjakan yang tampak kasat mata itu, berbeda dengan isi hati. Kecaman Yesus terhadap orang-orang Farisi dan para ahli Taurat kiranya mengingatkan kita semua akan hal ini.

'Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?'. Inilah sebuah penyataan tegas yang disampaikan Yesus, yang sepertinya digunakan sebagai pembanding dengan penyataan sebelumnya. Mengamini sabda dan kehendak Tuhan benar-benar menyelamatkan orang, dan bukannya seruan Tuhan-Tuhan, yang memang bisa dilontarkan hanya sebatas dengan bibir, tetapi hatinya jauh daripadaNya.  'Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya,  ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun'. Sabda Tuhan menjadi bekal dan pelindung bagi orang-orang yang mengaminiNya. Sebaliknya. 'barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya'. Membaca kitab suci hanya sekedar sebagai bahan pengetahuan memang juga tidak akan berguna dalam pembangunan hidup. Sebaliknya orang yang mengamini sabda dan kehendak Tuhan dalam hidupnya membuat dia bergaul akrab dengan sang empunya kehidupan; membuat dia tinggal dalam Allah dan Allah tinggal dalam dirinya.

Orang yang rajin membaca kitab suci dan berusaha melaksanakannya tak ubahnya membiarkan Kristus Tuhan dalam hidupnya; dan itulah yang dikatakan Paulus dalam suratnya kepada Timotius. 'Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,  dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.  Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal' (1Tim 1: 15-16). Mengamini sabda dan kehendak Tuhan adalah sikap dan tindakan utama Paulus setelah pertobatannya. Kasih Tuhan Yesus yang dirasakannya semenjak itu benar-benar membekalinya untuk semakin berani mengikuti sabda dan kehendak Dia yang memanggilnya.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bentuklah kami agar menjadi pribadi yang sejati,  mengamini dan melaksanakan kehendakMu, yang mendatangkan keselamatan bagi kami. Sebab hanya dalam sabdaMu, kami beroleh kehidupan sejati.

Santa Perawan Maria, doakanlah kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya,  ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu'.

 

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening