Sabtu dalam Pekan Biasa XXV, 26 September 2015


Zak 2: 1-10  +  Mzm  +  Luk 9: 43-45

 

 

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:  "dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia."  Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, karena memang Yesus membuat segalanya menjadi indah adanya; yang buta melihat, yang lumpuh melompat-lompat, yang tuli mendengar, dan kepada yang miskin diwartakan kabar sukacita, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:  'dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia'. Kembali Yesus menjungkir-balikkan konsep pemikiran yang ada. Anak Manusia akan diserahkan kepada tangan manusia. Dia yang mampu mengubah segala sesuatu ternyata harus menyerahkan diri ke dalam tangan manusia. Mengapa Yesus tidak mengubah tangan-tangan kuat manusia? Mengapa Yesus tidak menjadikan tangan-tangan mereka lumpuh? Mengapa Yesus tidak mematri semua akal budi manusia, sehingga semua orang tanpa terkecuali selalu turut segala apa yang dikatakanNya? Mengapa Yesus begitu menghormati akal budi dan kehendak bebas umatNya? Minimal mengapa  Dia membiarkan diri direbut dan dikuasai tangan-tangan manusia, ciptaanNya? Mengapa seorang Mesias merundukkan diri dalam kuasa manusia? Mengapa Mesias harus menderita?  

Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Orang yang hebat koq bisa diserahkan kepada tangan-tangan manusia itulah yang minimal sulit dimengerti mereka, apakah Dia tidak melawan. Bukankah sang Guru mempunyai banyak pengikut? Dan bukankah ada para murid yang setia mengikutiNya?  Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya. Inilah kita orang, yang enggan bertanya supaya sesat di jalan.

Adakah juga sering enggan bertanya dan bertanya dalam membaca kitab suci? Atau malah sebaliknya, karena mengalami kesulitan mengerti kitab suci kita malah berhenti dan enggan membacanya lagi? Karena sabda Tuhan yang berbicara dalam kitab suci, maka tentunya kita harus berani bertanya kepada Tuhan sendiri yang bersabda. Caranya dengan berdoa dan berdoa. Keberanian untuk bertanya dan bertanya dalam membaca kitab suci inilah yang kita lakukan dalam lectio divina. Lectio divina mengajak kita menggali pesan kitab suci yang disampaikan Tuhan sendiri kepada kita. Keberanian kita merenungkan kitab suci dalam lectio divina akan membuat kita semakin hari semakin mengerti sabda dan kehendakNya.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, Engkau sendiri yang adalah Allah mau menjadi manusia demi keselamatan umat manusia. Berilah kami kerendahan hati yang berani bertanya dan bertanya ketika kami tidak mengerti akan sabdaMu, agar kamipun semakin mengenal siapa Engkau itu sebenarnya.  Amin

 

 

 

Contemplatio

'Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening