Senin dalam Pekan Biasa XXII, 7 September 2015

Kol 1:24 – 2:3  +  Mzm 62  +  Luk 6:  6-11



Lectio

Pada suatu kali di  hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya.  Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia.  Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" Maka bangunlah orang itu dan berdiri.  Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?"  Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya.  Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

 

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali di  hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya.  Apa yang dikerjakan orang itu? Apakah dia memang hanya sebagai pendengar dan tidak meminta sesuatu daripadaNya? Yesus tentunya sudah melihat orang itu terlebih dahulu.  Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Inilah kejahatan mereka. Mereka sebenarnya tahu apa yang harus mereka lakukan, tetapi mereka berdiam diri, dan malah ingin membinasakan sesamanya. Mereka tahu yang hendak mereka lakukan sendiri terhadp orang itu, dan terhadap Yesus. 

Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: 'bangunlah dan berdirilah di tengah!'.  Yesus mempunyai acara tersendiri untuk menantang mereka sepertinya, tetapi mereka tidak mengertinya.  Maka bangunlah orang itu dan berdiri.  Lalu Yesus berkata kepada mereka: 'Aku bertanya kepada kamu: manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?'. Sebuah pertanyaan yang amat menantang memang. Bagi mereka tentunya sulit untuk mengikutinya. Berbuat baik berarti menyembuhkan orang itu; itu berarti mengijinkan Yesus untuk melakukan sebuah tindakan karya, yang bertentangan dengan hari Sabat. Berbuat jahat atau membinasakan tentunya pasti berlawanan dengan hukum Tuhan, sebagaimana disuratkan dalam kitab Ulangan. Yesus tahu pasti bahwa mereka tentunya tidak bisa menjawab, yang semuanya diakibatkan kejahatan mereka sendiri.

Berbuat baik atau berbuat jahat? Sebuah pertanyaan yang memang menantang untuk berani memilih salah satu. Hanya saja konsekuensinya dengan berbuat baik, seseorang harus berani menderita dan tidak popoler. Itulah yang dilakukan oleh Paulus, sebagaimana disuratkannya kepada umat di Kolose, bahwa dia siap menderita 'karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat' (Kol 1: 24). Semuanya dilakukan Paulus, karena memang dia ingin berbuat baik kepada jemaat yang dibimbingnya, dan dia tahu resiko yang hendak ditanggungnya.  Seseorang yang berbuat baik berati  harus berani menderita dan tidak popoler, sebab pertama dengan berbuat baik berarti menomerduakan kepentingan diri dan mengedepankan kepentingan orang lain. Kedua, berbuat baik juga mendatangkan resiko dari banyak orang, karena memang tidak semua orang mendapatkan kepuasan diri. Itulah yang dialami orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, yang memang merasa bahwa kepentingan diri mereka diabaikan dan diberikanNya kepada orang yang mati tangan kanannya itu.   

Sesudah itu Yesus memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: 'ulurkanlah tanganmu!'.  Yesus tidak memakai aneka rumusan dan ritual, sebagaimana kita renungkan dalam Injil Minggu kemarin. Yesus cukup berkata ulurkanlah tanganmu, karena memang sabdaNya memberi kehidupan dan keselamatam. Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya.   Ia menjadikan segala-galanya baik adanya: orang yang mati tangannya sebelah dapat menggerak-gerakan tangannya dengan baik. 

Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. Orang yang tahu akan kesalahan dan kelemahan diri sebenarnya segera menyelesaikan persoalan, tetapi tidaklah demikian bagi orang-orang yang egois dan mau menyenangnya sendiri. Itulah yang hendal dilakukan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Benarlah apa yang pernah dikatakan Yesus: bukan saja orang yang membunuh harus dihukum, mereka yang marah saja harus juga dihukum. Dosa besar berasal dari dosa kecil yang dijual-belikan.

 

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus,  jadikan hati kami hati yang selalu bersyukur serta dapat menghargai dan menerima orang lain, terlebih kami berabi mengawalinya dengan memilih yang terbaik bagi hidup kami, yang tentunya demi masa depan dan mendatangkan keselamatan bagi diri sendiri dan orang lain. amin.

 

 

 

Contemplatio

'Aku bertanya kepada kamu: manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?'.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening