Jumat dalam Pekan Biasa XXIX, 23 Oktober 2015

Rom 7: 8-25  +  Mzm 119  +  Luk 12: 54-59

 

 

 

 

Lectio

Suatu hari bersabdalah Yesus kepada banyak orang: 'apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi.  Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi.  Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?  Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?  Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara.  Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'.

 

 

 

Meditatio

'Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi.  Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi', kata Yesus kepada banyak orang yang mendengarkanNya. Yesus membenarkan apa yang mereka katakan; dan mereka semua bisa berkata demikian karena peristiwa kehidupan sehari-hari, yang telah menjadi pengalaman hidup.  'Hai orang-orang munafik', sambung Yesus,  'rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?  Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?'. Pengalaman hidup hendaknya membuat kita bijak dalam hidup ini. Pengalaman seringkali lebih luas dari pengetahuan. Pengalaman hidup itu lebih konkrit dan tepat sasaran daripada pengetahuan yang seringkali sebatas berisikan teori-teori. Pengalaman pada akhirnya membuat kita berani memberi sebuah keputusan bila terjadi sebuah pilihan yang harus kita ambil. Konkritnya, 'jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara.  Aku berkata kepadamu: engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'. Berdamai lebih penting daripada penyelesaian secara hukum. Apalah juga artinya penyelesaian secara hukum yang seringkali memperhitungkan untung rugi, tetapi tidak ada rasa damai dalam jiwa. Hati damai seharusnya menjadi ukuran dari setiap penyelesaian persoalan dan bukannya sampai lunasnya hutang yang harus dipertanggungjawabkan.

Damai kiranya terus-menerus kita usahakan dalam hidup ini mengingat kecenderungan untuk melakukan yang jahat dalam diri kita amatlah kuat. Itulah akibat dosa (bdk Rom 7: 20), tegas santo Paulus. Maka kiranya pengalaman hidup hendaknya menjadi pola kehidupan kita bersama. Bukankah pengalaman hidup mengandaikan adanya pengalaman akan Allah di dalamnya? Belajar dari pengalaman hidup tak ubahnya kita berlatih dalam discretio spirituum.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar menjadi semakin baik lewat pengalaman hidup yang tidak mudah, di mana di akhir dari semua itu kami menemukan sukacita dan kekuatan daripadaMu.

Dampingi dan kuatkanlah kami ya Yesus, agar orang lainpun dapat mengalami Engkau dan menikmati damai sukacitaMu melalui sikap hidup kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?  Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?'.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening