Kamis dalam Pekan Biasa XXIX, 22 Oktober 2015


Rom 6: 19-23  +  Mzm 1  +  Luk 12: 49-53

 

 

 

 

 

Lectio

Suatu hari bersabdalah Yesus: 'Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!  Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!  Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.  Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.  Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."

 

 

 

Meditatio

'Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!',  tegas Yesus. Yesus sepertinya ingin mendobrak kemapanan dan kenyamanan.  'Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan'. Sebuah konsep hidup yang dikumandangkan Yesus bagi setiap orang yang hendak mengikutiNya, bahkan kita orang yang telah percaya kepadaNya. Dengan mengikuti Kristus Tuhan  'akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.  Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya'. Mengapa harus terjadi semuanya itu? Bukankah keselamatan itu adalah kedamaian dan sukacita?

Benar memang keselamatan itu penuh sukcita, kebahagiaan dan damai. Namun tak dapat disangkal, semuanya itu tidak jatuh dari atas. Allah memang melimpahkan semuanya itu tanpa bayar, tetapi dituntut keberanian untuk menerimanya. Menerima keselamatan berarti berarti menyangkal diri dan memanggul salib. Menerima Yesus berarti menomersatukan sang keselamatan itu. Menerima Yesus berarti juga sebuah pilihan hidup yang harus diambil dan menomersatukan Dia; di situlah terjadi pertentangan antara anak dan orang tua, antara orang-orang yang ada dalam satu rumah. Semuanya terjadi karena akal budi dan kehendak bebas yang mengkondisikan setiap orang berbeda dalam nenentukan pilihan.

Kalua Yesus menegaskan:  'Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!', berkaitan dengan salib yang juga harus dipanggul oleh setiap orang yang hendak mengikuti diriNya. Bagi Yesus sendiri sudah mantab hati dan budiNya:  Akau datang untuk melakukan  kehendakMu, tetapi tidaklah demikian dengan orang-orang, yang memang mempunyai banyak pilihan dalam hidup ini. Yesus sangat memahami keberadaan umatNya. Namun bila semuanya itu telah berlangsung, yakni salibNya yang kudus, maka semua orang akan beroleh rahmat dan berkat. Bukankah kepercayaan kepada Kristus mendatangkan kasih karuniaNya? Bukankah kepercayaan kepada Kristus membuat setiap orang menjadi orang-orang merdeka, sebagaimana dikatakan Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma (bab 6) hari ini?

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur atas rahmat dan berkatMu. Kami memang tidak mengalami pertentangan dalam keluarga untuk mengikuti Engkau, malah kami mengalami perlawanan dalam diri kami sendiri, yang sering mencari kepuasan diri. Kami cenderung meninggalkan Engkau, yang tidak langsung menjawab doa-doa kami. Yesus, teguhkanlah iman kepercayaan kami. Amin.

 

 

 

 

Contemplatio

'Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang membawa pertentangan'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening