Minggu dalam Pekan Biasa XXVIII, 11 Oktober 2015


Keb 7: 7-11  +  Ibr 4: 12-13  +  Mrk 10: 17-27

 

 

 

 

 

Lectio

Suatu hari pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"  Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja.  Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"  Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."  Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."  Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.  Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."  Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.  Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."  Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"  Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."

 

 

 

Meditatio

'Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah', tegas Yesus. Segala sesuatu mungkin terjadi, bila kita lakukan dalam Allah, termasuk  'lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah'. Yesus berkata demikian, apakah Dia hendak mempersalahkan kekayaan dan memuji bahagia kemiskinan? Bukankah beberapa perempuan yang mengikuti Yesus malah menggunakan kekayaan mereka untuk melayani Yesus bersama para muridNya? Bukankah Yesus secara sengaja berkunjung ke rumah Zakheus orang yang kaya itu? Bukankah Paulus malah mengajak setiap orang untuk rajin bekerja, dan yang tidak bekerja tidak layak untuk makan?

Yesus berkata demikian, pertama,  hanya karena kasih. Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: 'hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku'. Yesus berkata demikian guna mengajak orang kaya itu untuk memperoleh hidup kekal.

Kedua, Yesus hendak mengembalikan apa yang terindah dalam hidup manusia ini. Ada sesuatu yang indah dalam hidup ini dan bukan hanya kekayaan. 'Aku berdoa dan akupun diberi pengertian, aku bermohon lalu roh kebijaksanaan datang kepadaku', tegas Salomo dalam bersharing tentang hidupnya. Dia memohon yang terindah bagi hidupnya (1Raj 3). Dia seorang raja muda, yang dipercayai untuk memimpin umat Allah. Dia tidak meminta apa-apa, dia hanya meminta roh kebijaksanaan.  'Dialah yang lebih kuutamakan daripada tongkat kerajaan dan takhta, dan dibandingkan dengannya kekayaan kuanggap bukan apa-apa.  Permata yang tak terhingga nilainya tidak kusamakan dengan dia, sebab segala emas di bumi hanya pasir saja di hadapannya dan perak dianggap lumpur belaka di sampingnya.  Ia kukasihi lebih dari kesehatan dan keelokan rupa, dan aku lebih suka memiliki dia dari pada cahaya, sebab kilau dari padanya tidak kunjung hentinya.  Namun demikian besertanya datang pula kepadaku segala harta milik, dan kekayaan tak tepermanai ada di tangannya'  (Keb 7)

'Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum,  maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorang pun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorang pun seperti engkau. Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorang pun seperti engkau di antara raja-raja', tegas Allah sendiri kepada Salomo. Semuanya itu mungkin terjadi, bila memang Allah menghendaki.

Roh kebijaksanaan itu tidak lain dan tidak bukan adalah sabda Tuhan sendiri. Hanya dalam sabdaNya kita dapat menikmati hidup ini dengan indah dan penuh sukacita. Karena apa?  'Karena sabda Allah itu hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.  Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab' (Ibr 4).

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus,  ajarilah kami untuk berani menyerahkan hidup kami seutuhnya dalam mengikuti Engkau, serta tidak menomersatukan segala harta dan predikat keduniawian.

Ya Yesus, teguhkanlah kami dalam beriman kepadaMu. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening