Minggu dalam Pekasn Biasa XXVII, 4 Oktober 2015


Kej 2: 18-24  +  Ibr 2: 9-11  +  Mrk 10: 2-12

 

 

 

 

 

Lectio

Pada waktu itu datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?"  Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?"  Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai."  Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu.  Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan,  sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,  sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.  Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.  Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."

 

 

 

Meditatio

Pada waktu itu datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya. Inilah kejahatan kita manusia, yang sering berani mencobai sesama, bahkan Yesus Kristus sendiri menjadi sasaran umat yang dikasihiNya. 'Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?'.  Sebuah pertanyaan yang menarik dilontarkan mereka. Apakah mereka tidak mengerti persoalan itu? Bisa saja mereka mengerti baik persoalan tersebut. Bukankah mereka banyak mengerti tentang hukum Taurat dan kitab para nabi? Namanya saja mau mencobai, jadi mereka hendak mencari kesalahan orang lain.  Tetapi jawab-Nya kepada mereka: 'apa perintah Musa kepada kamu?'. Mengapa Yesus langsung menghubungkan persoalan mereka dengan perintah Musa?  Mengapa tidak kepada nabi lain? Tidak kepada raja Daud? Musa menjadi referensi mereka, karena memang hukum Taurat menjadi pedoman hidup mereka. Musa adalah seorang tokoh sejarah juga yang membebaskan mereka dari kuasa perbudakan Mesir. Setiap tahun mereka merayakan Paska sukacita, di mana nama Musa pasti disebut mereka. Daud tidak menjadi referensi, karena tentunya hidup Daud tidak menjadi referensi mereka.  Jawab mereka: 'Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai'. Kapan surat perijinan itu diturunkan, sepertinya tidak banyak orang tahu.

'Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu', tegas Yesus kepada mereka semua. Yesus yang tahu segalanya menjawab mereka dengan tegas. Mengapa Musa menuliskan perijinan itu? Ternyata karena himpitan orang-orang Israel yang mengancam hidup Musa. Nabi pun sering dibuat tak berdaya oleh orang-orang yang dikasihi sang Pencipta.  'Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan,  sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,  sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.  Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia'. Yesus mengembalikan semua pada kehendak Allah. Perkawinan adalah luhur dan mulia. Perkawinan adalah kehendak Allah sendiri, di mana seorang laki-laki dan perempuan saling melengkapi dan menyempurnakan. Seorang perempuan di-berada-kan bagi seorang laki-laki guna menolong dan menyempurnakan seorang laki-laki, sebaliknya ada laki-laki menjadi sempurna karena seorang perempuan yang hidup bersamanya. Kebersamaan seorang laki-laki dan seorang perempuan adalah keluarga mandiri, yang memang lepas dari keluarga yang memang semenjak awal telah mengawal mereka.  Mereka bukan lagi dua, melainkan satu.

Mungkinkah Yesus menjawab:  ya kita harus berani memahami kelemahan sesama kita. Mari kita saling, tahu sama tahulah? Kalau seandainya Yesus menjawab seperti itu, apakah reaksi kaum Farisi? Apakah mereka langsung angkat jempol dan mengangkat-angkat Yesus sebagai seorang pahlawan? Namanya kaum Farisi itu mencobai sang Guru, tentunya mendengar jawaban seperti itu, mereka pasti akan langsung melempari Yesus dengan batu dan merajam Dia. Bukankah  semenjak awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan,  sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,  sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.  Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Mereka bukanlah orang-orang yang tidak tahu Kitab Suci. Mereka ahli dalam Kitab Suci. Mereka bertanya dan bertanya hanya karena ingin mencobai sang Guru dari Nazaret yang menggelisahkan posisi dan peran mereka yang diselimuti kemunafikan itu.

Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka:  'barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu; dan  jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah'. Tidak ada perceraian dalam diri setiap orang yang percaya kepada Kristus Tuhan sang Empunya kehidupan. Perkawinan adalah kehendak dan kemauan Allah. Bukankah memang Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sesuai dengan citraNya? Perkawinan dalam Gereja adalah sebuah sakramen, di mana setiap orang diminta menjadi alter Kristus dalam menebarkan keselamatan. Cinta seorang suami terhadap isterinya hendaknya menjabarkan cinta Kristus kepada GerejaNya, dan sebaliknya cinta seorang isteri terhadap suami mewujudkan kerinduan Gereja akan Kristus, sang Mempelai Laki-laki. Keluarga kristiani adalah keluarga Nazaret yang kudus, yang memberi tempat pertama dan utama bagi Kristus di tengah-tengah mereka.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, lindungi pasangan keluarga yang telah Kau persatukan, agar mereka selalu mengutamakan kasih dalam hidup perkawinannya. Dampingilah mereka selalu, ya Yesus, agar terwujud GerejaMu yang Kudus . Amin

 

 

 

Contemplatio

'Mereka bukan lagi dua, melainkan satu'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening