Pesta Santa Teresia Kanak-kanak Yesus, 1 Oktober 2015


Neh 8: 1-12  +  Mzm 19  +  Luk 8: 1-12

 

 

 

 

 

Lectio

Pada waktu itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.  Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.  Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan.  Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini.  Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.  Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu,  dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.  Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah:  Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat.  Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."

 

 

 

Meditatio

Pada waktu itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.  Yesus tidak hanya mengutus keduabelas muridNya, melainkan ke tujuhpuluh murid. Siapa saja mereka itu?  Tujuhpuluh kiranya juga menjadi angka idaman semenjak Perjanjian Lama. Kota-kota mana saja yang hendak dikunjungi tidak disebutkan dengan jelas. Kata Yesus kepada mereka: 'tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu'. Tentunya Yesus meminta mereka untuk bermohon kepada Bapa di surga, sang Empunya kehidupan ini. Namun mengapa Yesus tidak menyuruh banyak orang lagi? Mengapa tidak lebih dari tujuhpuluh murid? Mengapa Yesus membatasi mereka? Apakah hanya ingin menunjukkan apa yang telah tersurat memang dalam Kitab Suci? Apakah memang Dia  benar-benar menunjukkan, bahwa segala sesuatu yang dilakukan adalah semata-mata kehendak Bapa, sebagaimana sudah dilaksanakan semenjak Perjanjian Lama? Bukankah Anak Manusia ada dalam Bapa, dan Bapa ada bersamaNya? Kiranya tak dapat disangkal, Yesus memang dalam hidupNya selalu menyamakan diriNya dengan segenap umatNya. Dia tidak memanfaatkan segala fasilitas diri demi karya pelayanan diriNya.  Yesus, 'yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia' (Fil 2: 6-7).

'Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala'. Suatu tugas perutusan yang amat berat. Kawanan domba saja menjadi sasaran serigala, apalagi anak domba ke tengah-tengah kawanan serigala. Siap mati. Tanpa bekas.  'Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan'. Jangan direpotkan dengan aneka perbekalan; memberi salam pun jangan, bukankah akan menghalangi tugas pokok yang hendak kita kerjakan. Bukankah pamit saja kepada kepada keluarga juga tidak diperkenankanNya? Mengamini tugas perutusan berarti hanya melakukan segala yang diperintahkanNya.

'Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: damai sejahtera bagi rumah ini.  Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu'. Kita diminta untuk mendahului dalam memberi salam. Mendahului memberi salam berarti tidak memperhitungkan siapa yang hendak kita beri salam; setiap orang yang kita jumpai dan kita temui, kepada merekalah kita sampaikan salam hangat dan penuh kasih itu. Para murid pun harus siap menerima perlawanan dan penolakan.  'Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah'. Kalau Yesus melarang para murid membawa aneka perbekalan, karena memang Dia telah mempersiapkannya melalui orang-orang yang mendengarkan pengajaran para muridNya. Tuhan Yesus tidak melemparkan aneka perbekalan itu dari atas, melainkan menyampaikannya melalui tangan-tangan kasih yakni para pendengar sabda. Sebab barangsiapa memberi secangkir saja kepadamu, karena kamu muridKu, dia akan mendapatkan ganjarannya (Mrk 9: 41).  Itulah yang pernah disampaikan Tuhan Yesus kepada para muridNya.

'Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu,  dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.  Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah:   debu kotamu pun yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat'.  Pertama, setiap murid harus berani menerima segala bentuk ucapan terima kasih dari umatNya, dan bukannya dengan memilah-milah. Apa yang disediakan, hendak dinikmatinya dengan penuh syukur. Menerima segala pemberian apa adanya adalah wujud pribadi yang tahu berterima kasih atas segala kasih karunia Tuhan.

Kedua, karya penyembuhan harus diarahkan kepada pertobatan akan Kerajaan Allah. Pertobatan kepada Kerajaan Allah adalah tujuan dari setiap karya pelayanan.  Ketiga,  penolakan terhadap karya Allah tidak ubahnya sebuah keputusan pribadi pada kebinasaan. Tanggungjawab akan dirasakan oleh mereka sendiri, orang-orang yang menolaknya; dan Yesus menegaskannya:  'Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu'.

Mengenang karya perutusan kita tentunya teringat kepada santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus. Dia adalah seorang karmelitas kontemplatif, tetapi hati dan budinya mengatasi batasan-batasan tembok biara yang membatasi seseorang berkomunikasi dengan dunia luar. Doa-doanya yang tertata rapi dalam sebuah biara, dan dikumandangkan dengan hati yang tulus menemani para misionaris dalam karya pengembangan Kerajaan Allah. Teresia tinggal dalam biara, tetapi dia menemani para misionaris dalam karya pewartaan, agar Allah semakin meraja di dunia dan Kristus sendiri semakin dikenal oleh umatNya.

Kelemahan badani seorang Teresia memang sama sekali tidak menuntut dia supaya mendapatkan pelayanan istimewa dari komunitas di mana dia tinggal. Teresia menerima apa adanya. Sakit dan derita yang dialaminya malah dipersembahkannya kepada Yesus yang tersalib, sebagaimana dikatakannya sendiri dalam doanya: 'Yesus di kayu salib yang haus, saya akan memberikan air kepadaMu. Saya bersedia menderita sedapat mungkin, agar banyak orang berdosa bertobat'. Semuanya itu dilakukan, karena Teresia juga ingat bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya, hanya karena Yesus Kristus sendiri yang telah mengubah hidupnya. Teresia sadar akan keterbatasan dirinya. Semuanya terjadi seindahnya hanya karena Yesus Kristus.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, begitu banyak hambatan dan tantangan dalam tugas perutusan yang harus kami hadapi, dampingi dan kuatkanlah kami selalu, agar dapat menjadi saksi-saksiMu yang setia.

Santa Teresia, doakanlah kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala'.

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening