Rabu dalam Pekan Biasa XXVII, 7 Oktober 2015


Kis 1: 12-14  +  Mzm 86 +  Luk 1: 26-38

  

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,  kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.  Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.  Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.  Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.  Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,  dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."  Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"  Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.  Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.  Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."  Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

 

 

 

Meditatio

Salam Maria penuh rahmat.  Sebuah sapaan yang begitu indah, yang kita berikan kepada Maria. Kita menyebut dan menyapa demikian, karena kita ingin mengikuti sang malaikat yang menyapa Maria, ketika mengunjungi di rumahnya.  'Salam, hai engkau yang dikaruniai'.  Sapaan seorang malaikat yang mengakui bahwa memang Maria adalah seseorang yang telah dipilih Tuhan, yang telah dirahmatiNya. Bukan saja penuh dengan karuniaNya, malah  'Tuhan menyertai engkau'. Tuhan sertamu, Maria. Tuhan Allah sungguh hadir dan menyertai Maria.

Malaikat sepertinya sungguh-sungguh sadar, siapakah seorang perempuan yang dihadapinya itu. Dia bukan seorang perempuan biasa.  'Terpujilah engkau di antara wanita'.  Elizabet sebagai seorang sesama perempuan juga mengakui, bahwa 'diberkatilah engkau di antara semua perempuan'; dan itulah yang dikatakannya sendiri kepada Maria dan Maria mendengarnya dengan telinga kepalanya sendiri, ketika dia berjumpa dan memandang Maria dengan mata kepalanya sendiri.  Maria benar-benar berbeda dengan perempuan-perempuan lain. Apa yang membedakannya? Keterpilihan dirinya oleh Allah? Benar, oleh keterpilihannya, tetapi juga tak dapat disangkal, oleh karena jawabannya juga, bahwa  'aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu'.

Keterpilihan dan jawaban Marialah yang memang membuat Maria kudus, dan 'diberkatilah buah rahimmu', tegas Elizabet. Elizabet berkata, begitu tahu siapakah Maria, dan juga siapakah yang ada dalam rahimnya yang kudus itu. Rahim Maria menjadi kudus adanya, karena Kristus Yesus; yang mana keduanya adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Gereja dengan berani berkata dan memuji  'terpujilah buah tubuhMu, Yesus' (Luk 1: 42). Gereja ikut bergembira dan bangga dengan keterpilihan dan jawaban Maria, karena akhirnya menjadikan Dia yang selama ini jauh di sana, kini ada di antara kita. Ada di dalam kita.

'Santa Maria, bunda Allah'. Sebutan yang dilambungkan Elizabet ditiru juga dalam memohon Maria yang memang telah diserahi sang Putera untuk mendampingi kita semua para muridNya. 'Ibu, inilah anak-anakmu' (Yoh 19). 'Doakanlah kami yang berdosa ini'. Kata-kata permohonan kepada Maria. Kita tidak menyembah dia, kita hanya memohon dan memohon bantuan doa-doanya, karena memang dialah ibu kita. Layaklah kalau anak-anak bermohon kepada sang ibu untuk merestui dan mendoakannya. Doakanlah kami selalu, doakanlah kami 'sekarang dan waktu kami mati. Amin'.

Apakah kesadaran memohon bantuan Maria sudah ada semenjak mereka berkumpul selalu dalam doa? Bukankah 'mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus?' (Kis 1: 14). Mungkin kepercayaan dan keberserahan diri kepada Maria mulai muncul dari diri para murid Nya, sebab para murid Yesus semenjak kebangkitan sang Kristus Tuhan selalu mengamini sabda dan kehendakNya. Yang pasti memang mereka belum berdoa Rosario sebagaimana kita lafalkan sekarang ini. Peringatan Maria Ratu Rosario mengingatkan kita agar berani berdoa bersama Maria dan memohon bantuan doa-doanya. Kita memang harus berdoa dan menyembah kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan, tetapi tidak ada salahnya kalau kita meminta bantuan doa-doa Maria, karena memang itulah kehendak Yesus sendiri yang telah menyerahkan kita kepada sang bunda, dan sebaliknya sang bunda kepada kita, para muridNya.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kiranya kamipun dapat meneladani bunda Maria, ketika dalam keterbatasan kami mampu percaya akan penyertaan dan penyelenggaraanMu di dalamnya.

Santa Perawan Maria, doakanlah kami, dan ajarilah kami untuk selalu berani menjawab sabda dan kehendak Bapa di surge, dan mengikuti Tuhan kita Yesus Kristus. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening