Selasa dalam Pekan Biasa XXX, 27 Oktober 2015


Rom 8: 18-25  +  Mzm 126  +  Luk 13: 18-21

 

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali Yesus berkata kepada orang-orang yang mendengarkan pengajaranNya: 'seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?  Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya."  Dan Ia berkata lagi: "Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah?  Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya."

 

 

 

Meditatio

'Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?', tegas Yesus dan pengajaranNya agar mudah dimengerti oleh mereka yang mendengarkanNya. Kerajaan Allah itu 'seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya'. Biji sesawi itu memang biji yang paling kecil dibandingkan dengan aneka biji lain, tetapi jika tumbuh dia menjadi seperti pohon besar yang rimbun, sehingga banyak burung bersarang pada cabang-cabangnya. Kerajaan Allah tidak ubahnya biji sesawi, karena kurang mendapat perhatian dari banyak orang, tidak banyak diagung-agungkan atau sebagai tanaman favorit; mungkin bukan menjadi kesukaan mereka yang gila lingkungan hidup. Apakah bisa kita tafsirkan, bahwa kita ini kurang menaruh perhatian terhadap Kerajaan Allah, minimal kita tidak memperhitungkan keberadaanNya, sedangkan mereka saudara-saudari kita yang tidak sekomunitas dengan kita begitu nenaruh perhatian kepadaNya, seperti  burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya? Bila seperti itu, keterlaluan kita. 

'Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah?', tambah Yesus. mengapa Yesus bertanya seperti itu. Apakah Yesus kehabisan akal untuk mencari perumpamaan yang benar-benar mudah dimengerti umatNya. Kerajaan Allah itu 'seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya'. Ragi itu memang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Seberapa besarlah ragi yang dicampurkan dalam tepung terigu dan menjadikannya sebagai suatu adonan. Kecil tetapi menjadikan hasil yang luar biasa. Demikianlah Kerajaan Allah itu adalah perkara kecil dan amat sederhana, tetapi jika kita berani menggelutinya, merasakannya dan menikmatiNya, maka hidup kita akan terasa semakin indah dan penuh sukacita.

Kerajaan Allah memang bukanlah soal makan dan minum, sehingga wajar kalau kita mengalami kesulitan dalam memikir dan merenungkannya. Kita akan menghadapi aneka kesulitan dalam merenungkan dalam hati dan melaksanakannya.  'Sebab Kerajaan Allah adalah soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus' (Rom 14: 17). Namun itulah yang kita kehendaki dan menjadi kerinduan banyak orang. Dan jujur saja, berkat Kerajaan Allah kita diarahkan kepada keselamatan kekal. Kita mengharapkannya, sebab pengharapan sepertinya inilah yang memang menantang kita untuk semakin tekun merindukannya (bdk Rom 8: 25), sebagaimana dikatakan Paulus kepada kita hari ini dalam suratnya  Yng kudus itu.

 

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami sering kurang memperhatikan kehadiranMu dalam anea peristiwa hidup kami. Kami mlah suka akan aneka hal yang instant dan tidak membutuhkan aneka permenungan, ajarilah kami, ya Yesus, untuk semakin hari semakin berani merenungkan kehadiran yang memang sungguh nyata dalam diri sesame kami. Amin.

 

 

 

 

Contemplatio

'Kerajaan Allah itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya'.

 

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening