Jumat dalam Pekan Biasa XXXI, 6 November 2015


Rom 15: 14-21  +  Mzm 98 +  Luk 16: 1-8

 

 

 

Lectio

Suatu hati  Yesus berkata kepada murid-muridNya: "ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang'.

 

 

 

Meditatio

Cerdik kali bendahara itu. Ia berusaha menyelamatkan hidupnya. Apakah memang kita harus cerdik seperti bendahara itu, walau pun harus korupsi demi menyelamatkan diri?  Apakah Tuhan Allah juga akan memuji kita seperti bendahara yang tidak jujur itu? Bendahara itu sudah menyelewengkan harta yang dipercayakan kepada dirinya, dan dia kini melakukan korupsi, sebagaimana kiranya dilakukan banyak orang  sekarang ini? Memang Yesus pernah berkata: 'hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati' (Mat 10: 16), tetapi Yesus tidak meminta kita untuk bertindak seperti bendahara itu. Yesus tidak mengajarkan kita untuk melakukan korupsi.

Perumpamaan hari ini, pertama  hendak mengatakan bahwa Allah begitu penuh belaskasih kepada umatNya. Dia tidak mudah menghukum umat milikNya yang telah jatuh dalam dosa. Bukankah Dia yang selalu berusaha mencari dan mencari umatNya dan diajakNya mereka untuk kembali kepadaNya? Bukankah Dia seperti seorang gembala yang terus mencari seekor domba yang tersesat, dan ketika ditemukannya, dia malah menggendongnya di bahunya dan mengajak banyak orang bersukacita? Allah tidak mudah menghukum orang-orang yang mau kembali kepadaNya. Sebaliknya, kedua,  Allah selalu memberi peluang kepada setiap orang untuk bertobat dan bertobat. Bukankah Yesus juga pernah berkata dalam sebuah perumpamaan tentang pohon ara: 'biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,   mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!' (Luk 13: 8-9). Tekanan perumpamaan bendahara yang tidak jujur, bukan pada si bendahara, tetapi kepada sang pemilik harta benda yang membiarkan bendahara untuk mencari jalan dalam mempertanggungjawabkan perbuatannya. Bukankah setiap orang juga telah dianugerahkan karunia istimewa yakni tercipta secitra dengan sang Pencipta sebagaimana diceritakan dalam kitab Kejadian?

Allah yang tidak suka menghukum, melainkan penuh belaskasih itulah yang disadari penuh oleh Paulus, bahkan karena kasih karuniaNya itu, dia mampu melakukan segala yang baik dan indah. 'Karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu,  yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus' (Rom 15: 15-16). Allah memberi kesempatan bagi setiap orang untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki, sembari menggunakan segala kasih karunia yang telah dilimpahkan Allah sendiri.

 

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, begitu besar belas kasihMu, Engkau tidak pernah menghukum mereka yang bersalah, tetapi Engkau memberi kesempatan setiap yang bersalah untuk bertobat dan kembali kepadaMu. Kiranya kamipun semakin dimampukan dalam memilih yang terbaik, serta menikmati sukacita dan keselamatan daripadaMu. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara'.

 

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening